Cerpen D. Hardi (Padang Ekspres, 30 Juni 2019)

Dunia Kecil di Kepalaku ilustrasi Orta - Padang Ekspresw
Dunia Kecil di Kepalaku ilustrasi Orta/Padang Ekspres

Di bagian barat rumah itu ia sering berdiri tak jauh dari pintu, memandangi sekeliling halaman—yang tak terlalu besar—dengan bebas walau cukup gentar untuk melangkahkan kaki melewati batas tetangga. Seumur-umur, ia, dan seorang perempuan tua yang tinggal bersamanya, sudah lebih dari cukup menggenapi karakter keluarga di dunia kecil yang riuh di rumah lama itu. Rumah yang berdiri sejak era Orde Baru. Rumah yang penuh kejutan, dengan teriakan dramatis tiba-tiba Kakak, seolah baru terjadi kekacauan yang menggemparkan.

Perempuan tua itu, sebut saja Ibu, sudah sangat paham bila sewaktu-waktu Kakak sedang tak enak hati. Bisa dipastikan, jika musababnya bukan karena lapar atau kehilangan sebuah mainan yang tak tentu letak rimbanya, acara televisilah yang kerap membuatnya jengkel. Kakak tak menyukai acara kartun (bahkan mereka yang dewasa pun masih menggemarinya). Bukan film, apalagi berita—kakak tak suka melihat orang berlama-lama ngomong atau berdebat. Di matanya, bibir orang-orang itu lebih menyerupai bibir mas koki. Sedang mas koki yang pernah dipeliharanya beberapa waktu silam berujung mati mengambang. Membuatnya jadi trauma dan sedih berkepanjangan. Kenangan itu seketika acap mampir tak kenal waktu. Ia akan melompatlompat kecil, berteriak nyaring ke arah langit-langit kamar.

“Kan Kakak sendiri yang ganti acaranya,” sahut Ibu mendekat. Remot itu hanya diputar-putar. Sesekali ia gigit tanpa keyakinan tombol mana yang harus dipilih untuk menonton acara kesukaannya. Kakak tak menyukai tombol-tombol yang berisi angka. Angka ibarat deretan patung yang harus dilayani dan dihitung. Patung-patung yang diimani dengan hukum pasti. Dihafal dengan jumlah yang semakin banyak semakin memberatkan kepala. Kakak tak pernah selesai menghafal hitungannya kecuali saat merapal jumlah domba-domba khayalan sebelum tidur dengan penamaan yang acak.

Lagi pula, apa yang pasti dari kehidupan yang dihitung, ditimang sedemikian masaknya oleh ukuran manusia?

“Tapi Kakak harus belajar. Tak ada kesulitan yang menghalau bila Kakak pintar membaca, menulis, berhitung. Kakak harus berani mencoba. Berani keluar rumah…” ujar Ibu ringan, menggerakkan tangannya yang sudah keriput ke kiri dan kanan, melicinkan tepi baju; tambahan biaya hidup sehari-hari yang didapat dari anak-anak penghuni kamar. Seolah tak benar-benar menyimak ucapannya sendiri. Seolah-olah kalimat itu dicerna Kakak dengan begitu mudahnya.

Advertisements