Cerpen Anggoro Kasih (Denpost, 30 Juni 2019)

Darah Daging ilustrasi Mustapa - Denpostw.jpg
Darah Daging ilustrasi Mustapa/Denpost

KILATAN cahaya masuk dari balik gelap jendela. Di luar hujan deras, angin kencang berlari sesuka hati disusul suara petir tanpa henti. Cuaca sedang seperti jalan hidup yang susah untuk ditebak. Kala siang, terik matahari membakar kulit. Di kala malam, hawa dingin menusuk-nusuk tanpa henti. Awan hitam juga datang sesukanya tanpa diundang. Mataku melihat amuk hujan dari jendela ruang depan. Peristiwa seperti ini mengingatkanku dengan peristiwa beberapa tahun silam.

Kenyataannya hujan bukan hanya menumpahkan air, namun juga mengantarkan kenangan. Kenangan itu menyudutkanku, seolah dengan sengaja memaksaku untuk mengingat kembali kelalaian yang telah kuperbuat puluhan tahun silam. Hujan juga mengantarkan keresahan-keresahan, dan puncak keresahanku kali ini disebabkan oleh Rahwana karena telah mengikuti jejak yang telah diperbuat ayahnya bersamaku dulu.

Suasana seperti ini benar-benar menyudutkanku. Membawa ingatanku mundur ke masa lampau, di mana aku dan Wisrawa melakukan kesalahan yang seharusnya tidak kami lakukan. Saat itu malam hujan lebat. Angin kencang dan petir menyambar. Di ruangan yang dikepung hawa dingin itu aku berdua dengan Wisrawa. Aku menerimanya sebagai tamu. Sementara dia datang untuk memenuhi syarat lamaran yang kuajukan jika dia ingin aku menerima lamaran Danaraja. Namun entah kenapa, malam itu, Danaraja sekaligus bakal suamiku malah tidak datang.

Kedatangan Wisrawa malam itu merupakan kedatangannya yang kesekian. Sebelumnya Wisrawa sudah pernah datang bersama Danaraja. Kedatangannya kala itu tak lain dan tak bukan ialah mengantarkan Danaraja melamarku. Namun sebagai perempuan, jelas  aku punya prinsip. Aku punya standar dan kriteria bakal suamiku. Aku tidak mau begitu saja menyerahkan hidupku kepada mereka yang menginginkanku. Aku sudah menolak lamaran dari beberapa lelaki. Yang terakhir kutolak ialah lamaran lelaki bergelimang harta yang kekayaannya telah melambungankan namanya. Lelaki itu bernama Reksasena. Ia salah karena telah mengira jika dengan harta saja bisa mempersuntingku. Lamarannya kutolak mentah-mentah.

Aku sudah memberitahu ayahku bahwa pria yang kuinginkan menjadi suamiku harus berilmu, dan berbudi pekerti luhur. Aku tidak peduli dia berasal dari keluarga mana, aku juga tidak peduli mau dia tua, muda, kaya ataupun miskin. Karena menurutku perihal semua itu mudah untuk dicari. Bukankah ilmu dan akhlak seharusnya memang hal utama? Dan lagi, bukankah pernikahan memang akan semakin membuka pintu rezeki? Jadi kupikir, asal aku menikah dengan lelaki berilmu dan berbudi pekerti luhur, perihal materi itu pasti akan datang dengan sendirinya.

Advertisements