Cerpen R Amalia (Republika, 30 Juni 2019)

Akhir Hayat Seorang Laki-Laki Buta ilustrasi Rendra Purnama - Republikaw.jpg
Akhir Hayat Seorang Laki-Laki Buta ilustrasi Rendra Purnama/Republika 

Kematian merupakan sebaik-baik nasihat bagi mereka yang merindukan Tuhan. Sebaik-baiknya kita atau sepandai-pandainya kita, kita tak pernah tahu kapan ajal menjemput. Tak terkecuali juga dengan seorang laki-laki buta yang sering kulihat di pinggir jalan. Ia juga tak tahu dan tak bisa memilih kapan ia akan dijemput kematian.

Sering aku melihatnya terburu-buru menyeberang jalan. Seolah-olah ia hendak mengejar suatu hal yang penting. Tidakkah ia sadar bahwa dirinya buta. Tidakkah ia tahu apa risikonya bila ia menyeberang jalan dengan tergesa-gesa. Aku pun penasaran ingin mengetahuinya. Apa yang sesungguhnya ingin dilakukan seorang laki-laki buta?

Kuamati langkah kaki laki-laki buta itu. Kuikuti hari demi hari perjalanannya hingga ajal kemudian menjemputnya lebih dulu. Kupikir mungkin apa yang kulakukan ini sungguh keterlaluan. Aku seperti orang yang tak memiliki pekerjaan alias pengangguran. Meski begitu, sebenarnya kondisi kami sama. Aku seorang laki-laki yang memiliki kekurangan juga. Bedanya aku tak memiliki satu tangan, tetapi bisa melihat dunia ini dengan kedua mataku. Sementara, dia buta. Dia buta sejak lahir. Begitulah kira-kira perbedaan kami. Akan tetapi, kami memiliki kesamaan. Jujur, sejak kali pertama mengenalnya aku tahu dia laki-laki yang baik dan tangguh. Dengan keterbatasannya itu, ia tak ingin orang-orang mengasihaninya. Karena itulah, dia berdagang. Demi melanjutkan perjalanan, ia berjualan berbagai buku di pinggir jalan, sedangkan aku berjualan aneka minuman. Aku berjualan di seberang. Berseberangan dengan tempat laki-laki buta berjualan.

Laki-laki buta yang akrab dipanggil Bas sedang menawarkan dagangannya. Terlihat beberapa orang mendekat menghampiri lapak laki-laki buta. Terlihat seorang perempuan berseragam abu-abu putih meletakkan beberapa lembar uang di atas tumpukan buku. Jumlah yang menurutku tak sesuai dengan jumlah dan tebal buku yang dibawa perempuan berseragam abu-abu. Melihat itu, aku pun mendatangi perempuan itu.

“Apa kau tak salah memberikan uangmu, Mbak?”

Advertisements