Mendung menyelimuti langit kampung Tarebung, peristiwa kematian Arsumo dan Sama’on menyebar ke pelosok-pelosok pulau Madura. Daundaun berguguran mengiringi tetesan air mata Satiha. Satiha merasa terpukul, bathinnya terasa hancur.

“Haruskah semua berakhir dengan cara seperti ini. Haruskah celurit menjadi tulang laki-laki Madura.” Air mata Satiha tumpah di atas batu nisan Arsumo. (***)

 

Toteker, 26 Maret 2019

Advertisements