Cerpen Deddy Arsya (Koran Tempo, 29-30 Juni 2019)

Hantu Komunis ilustrasi Koran Tempow.jpg
Hantu Komunis ilustrasi Koran Tempo 

Selama seminggu setelah hari perhelatan, rumah Rahima masih terus didatangi undangan. Kenalan-kenalannya masih datang mengucapkan selamat, menyelipkan amplop putih berisi uang, atau menghadiahinya kado. Selama seminggu itu pula Rahima masih akan merasakan hawa pesta. Setiap yang datang, sekalipun beralasan hanya akan sebentar, ‘ada pekerjaan lain yang harus dikerjakan’, tetap akan menerima hidangan makan dari Rahima. “Harus makan,” tegah Rahima kepada setiap tamu yang datang.

Tamu-tamu itu tentulah akan sedikit kesal harus menghabiskan waktu berlama-lama di sana, harus menyantap hidangan yang sudah tidak baru pula. Rendang yang sudah dua hari, gulai nangka yang sudah tiga hari, perkedel kentang yang sudah empat hari, kerupuk udang yang sudah masuk angin… Namun, sambil bersantap, tamu-tamunya itu akan tetap bercakap-cakap dengan Rahima, dengan gembira tentu saja. Jika pun ada di antara tamu yang sedang tak berbahagia, mereka haruslah tampak bahagia. ‘Sahabat mereka sedang berbahagia, kenalan mereka tengah berpesta, dan kesedihan hanya akan mengacaukan,’ begitulah barangkali yang ada dalam pikiran dari rata-rata para tamu yang bijak membaca keadaan.

Apa yang mereka bicarakan tentulah tergantung seberapa dekat Rahima dan tamu-tamunya. Kadang pembicaraan mereka tentang rencana masa depan, keinginan punya anak, pekerjaan setelah menikah … hampir-hampir tak pernah tentang masa lalu.

Namun, suasana seperti itu hanya berlangsung selama seminggu setelah perhelatan, betul-betul hanya seminggu belaka. Setelah seminggu, tak ada lagi undangan yang datang. Tinggallah Rahima yang kini telah bersuami itu terbungkuk-bungkuk dalam sepi.

Setelah seminggu itu, Rahima dan suaminya tak pernah lagi memikirkan pesta. Setelah seminggu itu pula, suaminya telah akan berangkat bekerja kembali, menyopir truk ke Jawa. Tinggallah Rahima menemani ibunya, ikut bekerja di sawah, atau hanya menenun songket saja di rumah.

Setelah sang suami berangkat ke Jawa, lama suami Rahima kembali pulang ke sisinya lagi. Lima atau enam bulan setelah suaminya berangkat, barulah Rahima bertemu dengan suaminya kembali. Ketika itu, perut Rahima sudah besar, dan beberapa bulan ke depan tentu sudah akan melahirkan. Betapa cepatnya.

Advertisements