Saat duduk santai di ruangan tamu ada sosok om Wira juga, di setiap sisi atau pun di setiap sudut rumah, aku harus melihat tampang wajahnya yang menjengkelkan, sekarang Ry ia sudah berani mengaturku, di hadapan bunda ia kerapkali menasehatiku dengan kata-kata yang samasekali tak bermutu buatku.

“Zyra, biasakanlah kalau tidur tidak perlu menghidupkan lampu kamar.”

“Apakah om Wira tidak tahu kalau aku takut dengan kegelapan?”

“Rani! Bagaimananya putri kesayanganmu ini? Apakah tidak kau ajarkan untuk memanggilku dengan panggilan ayah?” mendadak om Wira memarahi bunda di depan mataku lalu membanting benda yang ada di dekatnya.

“Maafkanlah Zyra, mas Wira harus paham sepenuhnya bahwa ia perlu beradaptasi dengan hal yang baru terlebih dengan dirimu, perlahan aku yakin, ia akan terbiasa memanggilmu dengan panggilan ayah.” Bunda membelaku sembari menatap kedua mataku dengan nanar kehangatan.

“Nasehati lagi putri kesayanganmu, biar ia lebih menghargai aku di rumah ini sebagai ayahnya, ia harus menerima kenyataan kalau aku sudah menggantikan posisi ayahnya yang sudah tiada, jelas terlihat dari kedua mata putrimu kalau ia kurang menyukai keberadaanku.”

Ry, lelaki itu berbeda sekali dengan almarhum ayah, perihal lampu kamar yang tak pernah kumatikan saja menjadi perkara besar baginya, semasa ayah hidup, ia tak pernah mempermasalahkannya karena beliau paham benar kalau aku begitu takut dengan kegelapan.

Om Wira katanya berjanji akan menjadi ayah terbaik untukku, tapi seluk beluk tentang diriku saja ia tak mengerti, segala hal tentang diriku tak dipahaminya secara paripurna, Ry aku jenuh menjalani lembaran episode hari-hariku bersama sosok yang tak kuinginkan kehadirannya. Apakah aku salah Ry? Bila belum bisa menerimanya menjadi bagian dari keluarga ini, tapi Ry kasihan juga dengan bunda bila aku belum bisa mencintai orang yang teramat dicintai dan disayanginya.

20 Oktober 2017, tragedi telah karam pada haluannya

Sesuatu hal yang kukhawatirkan pada akhirnya terjadi juga Ry, kasihan bunda, perasaannya kerapkali tersakiti oleh suaminya, semua yang dikatakan oleh lelaki itu hanyalah palsu belaka, terbukti sekarang ia kembali kepada tabiatnya yang semula, doyan main perempuan.

Advertisements