Cerpen Sumiati Al Yasmine (Analisa, 26 Juni 2019)

Diary Kematian ilustrasi Erlangga - Analisaw.jpg
Diary Kematian ilustrasi Erlangga/Analisa

10 Juni  2017, waktu bergulir dalam buaian

Selaksa pagi hari ini bernuansa bening, bentangan birunya langit menerjemahkan pesan kedamaian tanpa cacat sedikit pun, embun jernih belum memecah dari peraduannya, tarian angin menerpa reranting dedaunan yang telah melepuh, nun jauh di atas langit, sepasang kolibri terbang mengepakkan kedua sayapnya dengan begitu semangat, terbang mengelilingi khatulistiwa dan sejenak hinggap di putik bunga-bunga dendrobium.

Apa kabar diaryku? Pagi hari ini sangatlah berkesan bila kau selalu ada untukku. Ry kemarin aku berjumpa dengan si Mr X, enek rasanya bila harus memanggil namanya, berjumpa dengannya sewaktu aku pulang sekolah, seperti biasanya ia selalu menyapaku dan mengajakku makan, tapi niatan baiknya itu selalu aku tolak, entah mengapa Ry, aku muak melihat tampangnya.

Aku tak suka bila ia menaruh hati pada bunda, aku tak sudi bila ia menjadi calon suami bunda, ada banyak hal yang tak kusukai darinya, ia bermata keranjang, lelaki yang doyan main perempuan dan lihai berselingkuh, ia tentunya punya segudang perempuan selingkuhan, suara hatiku selalu mengatakan bahwa ia tak setulus hati mencintai dan menyayangi bunda.

Tak bisa dipungkiri si Mr X adalah lelaki yang berdompet tebal, lelaki kaya raya, saban hari ia tak pernah kekurangan uang, perusahaannya berkembang dengan pesat, mobil-mobil mewahnya berharga fantastis.

Perihal status dan latar belakang lelaki itu tak jelas, ia mengaku duda tapi istrinya ada di mana-mana, sementara bunda nantinya entah menjadi istrinya yang keberapa, Ry teramat berat hatiku untuk menerimanya sebagai pendamping hidup perempuan yang paling kusayangi di dunia ini.

“Aku kurang setuju kalau bunda menikah dengan om Wira, sikap dan wataknya teramat jauh dari almarhum ayah, ada banyak ketidakcocokkan di antara kami berdua, menurutku ia hanya setengah hati mencintai bunda.”

“Maafkan aku bunda yang tak bisa menerimanya sebagai figur ayah yang harus aku hormati, aku tak rela bila ia yang menggantikan posisi almarhum ayah, sampai kapan pun posisi ayah tak akan pernah bisa tergantikan oleh siapa pun, ayah akan selalu ada di hatiku.” Kutahan rintik airmataku yang serasa ingin meleleh dari pualam pipiku.

Advertisements