Cerpen Faris Al Faisal (Rakyat Sultra, 24 Juni 2019)

Tidur, Mimpi, dan Mati ilustrasi Istimewa.jpg
Tidur, Mimpi, dan Mati ilustrasi Istimewa

/1//

Dokter Rafi terpaku memandangku. Matanya menjelajah wajah dan tubuhku yang sudah terkulai lemas. Keningnya berkerut-kerut memikirkan keluhanku. Ia bersandar di kursi kerjanya, sambil berusaha membuka ingatannya tentang ceritaku.

“Saya pernah mendengar batas kekuatan manusia tidak tidur kurang lebih sepekan. Kalau pun ada yang bertambah, hanyalah 11 hari saja. Setelah itu tak kujumpai angka insomnia yang melewati bilangan itu. Sebab jika ada, orang itu akan menderita masalah pada daya ingatnya, paranoia dan halusinasi. Namun, Anda bahkan mengatakan sudah 15 hari tidak tidur, benarkah?”

“Benar, Dok,” ucapku meyakinkannya.

Sebenarnya, bukan hanya dokter Rafi yang tak percaya. Aku sendiri bahkan heran dengan diriku sendiri. Sudah belasan kali mencoba tidur, tetapi belasan kali pula terbangun. Sejak itu, sulit sekali untuk bisa terpejam.

“Kenapa? Adakah yang dipikirkan? Saya lihat, kesehatan Anda sudah sangat memprihatinkan, bahkan buruk sekali.”

“Aku takut sekali untuk tidur.”

“Takut? Aneh sekali. Manusia wajar harus tidur agar kesehatannya bugar. Lihatlah wajah Anda di cermin itu! lingkar hitam dan lebam di mata.”

“Aku selalu dihantui mimpi-mimpi yang sangat ganjil, menyeramkan dan membuatku ngeri. Itulah sebabnya kenapa aku tidak ingin tidur.”

“Apakah sebelum tidur Anda berdoa? Meminta kepada Tuhan agar menjaga kita dari keburukan-keburukan yang tidak kita sadari?”

Dengan menundukkan kepala kukatakan pada dokter Rafi dengan jujur, “Bahkan aku tidak pernah berdoa.”

Lelaki berjas putih yang kelihatan masih muda itu tersenyum mendengar pengakuanku. Ia tak lagi banyak bicara kecuali tangannya yang mulai menulis resep obat untukku. Mungkin pikirnya mimpi yang kualami hanya mimpi-mimpi biasa. Aku sebenarnya ingin mengatakan soal mimpi-mimpi itu. Namun, kulihat dokter Rafi sudah menyodorkan sebuah kertas bertuliskan aksara yang tak kupahami untuk diserahkan ke apotek klinik .

Advertisements