Cerpen Arianto Adipurwanto (Padang Ekspres, 23 Juni 2019)

Sudar Gana Ingin Belajar Terbang ilustrasi Orta - Padang Ekspresw.jpg
Sudar Gana Ingin Belajar Terbang ilustrasi Orta/Padang Ekspres

Gigi depannya hanya tumbuh di satu sisi. Sisi yang lain ompong. Dari sisi yang tak bergigi ini bisa dilihat lidahnya yang basah gemuk turun naik setiap kali ia berbicara.

“Tadi malam Sudar Gana datang,” katanya, “tengah malam,” lalu manggut-manggut. Dengan jarijarinya yang gemuk ia mengelus-elus lutut. Seolaholah dengan melakukan itu, apa-apa yang tersimpan di dalam ingatannya bangkit dan keluar dengan mudah dari mulutnya. “Semua wajahnya ini,” ia mengangkat tangan kanannya, mengusap wajahnya, dan saat melakukan ini, kedua matanya mendelik, “penuh luka, gosong, luka bakar.”

Naq Colaq, nama perempuan tua ini, tinggal di puncak Mur Monjet. Setelah sekian lama, dialah orang pertama yang berani tinggal di puncak bukit ini. Setiap malam, dari balik dinding rumahnya yang hanya ditabiri anyaman daun kelapa, ia melihat cahaya warna-warni mengitari rumahnya. Menari. Melayang. Terdengar suara gemerencing logam dan setiap beberapa saat terdengar ledakan keras di atas atap rumahnya.

Naq Colaq tidak takut sedikit pun. Ia hanya berbaring di dipan bambu, dan terkadang berteriak menantang. Ia menyumpah, memanggil raja jin, raja hantu, raja dedemit, dan seluruh penguasa makhluk halus untuk datang dan melawannya berkelahi. Suatu malam, ketika teriakannya tidak digubris, dan suarasuara aneh semakin terdengar hiruk-pikuk di sekeliling rumahnya, ia bangkit, menanggalkan seluruh pakaiannya, dan keluar rumah dalam keadaan telanjang.

Bulan bersinar terang, menyinari perempuan tua yang menari-nari di puncak bukit. Susunya yang hanya berupa gelambir, bergerak-gerak kecil. Di sanasini tulang-tulangnya menonjol. Rambutnya yang telah beruban tergerai. Tidak  begitu jauh darinya, cahaya warna warni—hijau, merah, dan kebirubiruan—melayang-layang, seperti tengah dimainkan oleh bocah-bocah yang sedang dalam puncak kegirangan.

“Kalian mau apa?” tanyanya geram. Tidak ada jawaban. Seolah menjawab, terdengar ledakan keras dan sesuatu berwarna-warni mencuat ke langit.

Naq Colaq menari-nari dengan gesit. Kedua lengan kurusnya terentang, meliuk-liuk. Kedua kakinya terkangkang. Melebar. Menyempit. Terangkat bergantian. Menebah tanah. Kuku-kuku kakinya mencakar tanah. Dan angin mulai berhembus sedikit kencang. Lampu teplok yang tergantung di dinding bagian dalam rumah padam dalam seketika. Asap terakhir melayang-layang keluar rumah melalui puncak atap. Langit tidak berbintang. Hanya bulan yang bersinar melalui celah-celah awan yang berarakarak bagai pasukan gajah. Naq Colaq mengaum, berteriak, meringis, dan pada detik tertentu, tubuhnya berubah mengilap. Seluruh tubuhnya dilumuri lendir. Sementara gerakannya semakin gesit. Mungkin karena gerakan itu atau karena sebab yang lain, tibatiba sayap tumbuh dari bawah ketiaknya. Sayap yang hitam basah. Legam. Sinar bulan dan cahaya warnawarni yang terus beterbangan liar di sekitarnya membuat sayap yang tumbuh di kedua ketiaknya berkilauan. Terakhir, kedua tumitnya terbalik. Telapak kakinya menghadap ke belakang. Dan ia serta-merta terbang ke langit.

Advertisements