Orang-orang mulai panik dan ketakutan. Sebab guntur dan petir yang semakin bergemuruh menandakan ada sesuatu yang tidak beres. Namun lelaki tua itu tetap khusyuk memimpin salat jenazah sampai selesai. Diangkatnya kedua tangannya lalu berdoa dengan khusyuk dan ikhlas, “Ya Allah, tolong ampunilah dosa-dosa kedua mayat ini. Engkau Maha Pengampun. Aamiin.” Lelaki tua itu mengusap wajahnya, lalu telapak tangan kanannya menempelkan di dada kirinya beberapa menit.

Usai memimpin salat jenazah, lelaki tua itu meninggalkan rumah duka tanpa sepatah kata pun. Ia berjalan pelan, sebelum akhirnya menghilang di sela-sela terik mentari siang yang garang. Tak ada warga yang sempat bertanya tentang identitas dan tempat tinggal lelaki tua itu. Termasuk tak ada warga yang sempat mengucapkan terima kasih, karena keluarga kedua mayat tersebut, dan warga keseluruhan seperti terkatup mulutnya. Hanya mata mereka yang melotot menyaksikan lelaki tua itu meninggalkan Desa Bonto Cinde. Hanya hati mereka yang bertanya-tanya, siapakah lelaki tua itu yang telah berbuat baik menyalati kedua mayat yang tewas secara tragis dan memilukan.

***

KEPANIKAN kembali berkecamuk saat jenazah Soreang dan Muliana hendak dimasukkan dalam kubur. Langit kembali bergemuruh. Guntur dan petir saling bersahutan. Kali ini benar-benar  langit Desa Bonto Cinde semakin mencemaskan.

Tiga orang yang bertugas memasukkan dua jenazah ke liang kubur seperti tersengat strom yang mengalir dari setiap tanah yang ditapakinya. Berulang kali melompat karena merasa ada api yang membakar telapak kakinya.

Jenazah Soreang dan Muliana pun seperti yang sering ditonton lewat sinetron televisi, benar-benar menjadi kenyataan. Kedua mayat tersebut menyemburkan asap yang tak sedap. Dan pada saat yang bersamaan puluhan bahkan ratusan kalajengking tiba-tiba keluar dari dalam tanah dan mengerumuni kedua jenazah tersebut.

Warga desa yang menyaksikan keanehan itu tidak bisa berbuat apaapa. Mereka hanya menggigit bibirnya, lalu komat-kamit berdoa dalam hati, agar Tuhan mengampuni dosadosa almarhum Soreang dan almarhumah Muliana. (*)

 

Makassar, 1 Desember 2018.

Muhammad Amir Jaya. Penulis tinggal di Makassar.

Advertisements