Cerpen Muhammad Amir Jaya (Fajar, 23 Juni 2019)

Petir ilustrasi Fajarw.jpg
Petir ilustrasi Fajar

Desa Bonto Cinde geger. Sore menjelang magrib itu, dua sosok manusia hangus terbakar dengan mata melotot ditemukan salah seorang warga di bawah pohon asam. Kedua sosok manusia itu yakni Soreang dan Muliana. Mereka nyaris tak dikenali karena tubuhnya menghitam. Mereka saling berpelukan juga nyaris tanpa busana.

Opu Bandu yang pertama kali menemukan dua sosok manusia itu memastikan bahwa Soreang dan Muliana disambar petir saat bermesraan di bawah pohon asam, dekat kandang kambingnya. Apa yang dilihat di hadapannya itu membuat bulu kuduknya merinding, tubuhnya menggigil, hatinya gelisah dan sedih. Tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali terus beristigfar. “Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah. Ampunilah mereka, Tuhan,” geremang mulutnya.

Ia sesungguhnya tak sanggup menyaksikan kedua mayat tersebut. Ia pun segera berlari ke rumahnya dan memberi informasi kepada warga desa yang ditemuinya bahwa Soreang dan Muliana disambar petir. Mayatnya gosong di bawah pohon asam.

“Tolong, tolong, tolong…,” kata Opu Bandu dengan napas terengah-engah.

“Apa yang mau ditolong, Opu Bandu?”

“Itu Soreang dan Muliana.”

“Memangnya kenapa?”

“Disambar petir.”

“Di mana?”

“Dekat kandang kambing saya. Di bawah pohon asam.”

Warga Desa Bonto Cinde pun bergegas menuju kebun milik Opu Bandu. Kebun tersebut jaraknya kurang lebih dua kilometer dari perkampungan warga.

Semua warga desa yang menyaksikan mayat Soreang dan Muliana geleng-geleng kepala. Rasa prihatin, ngeri, sedih, perih, dan kesal bercampur baur di benak warga desa. Mereka prihatin dan sedih karena Soreang dan Muliana kembali ke pangkuan-Nya dalam keadaan mengerikan dengan tubuh nyaris tak dikenal. Merasa kesal karena menganggap perbuatan dua anak manusia itu bisa membuat Desa Bonto Cinde kena musibah.