Cerpen Amir Yahyapati (Kedaulatan Rakyat, 23 Juni 2019)

Pengantin Tujuh Purnama ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyatw.jpg
Pengantin Tujuh Purnama ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

SEJAK putra Ki Lurah Barghowi tertangkap basah berbuat mesum dengan gadis pujaannya, rapat di Balai Desa sering memanas dan mengundang debat sengit yang berlaratlarat. Pasalnya, Ki Lurah Barghowi selalu melontarkan usulan agar hukum adat “Pengantin Tujuh Purnama” dihapus dan ditiadakan sama sekali dari kampung Rejomulyo.

Sontak, ruang rapat gempar dan penuh dengung bagai sarang lebah yang diobrak-abrik tangan jahil. Modin, Ladu (pengatur air di sawah-sawah penduduk), dan beberapa Kamituwo geram. Mereka berbisik-bisik dan bersumpah akan menggagalkan rencana Ki Lurah. Maka peserta rapat pecah dalam tiga kelompok. Kelompok penentang keras dikomandani Modin. Kelompok mengambang ñ setuju juga tidak menentang juga tidak diwakili Carik. Kelompok yang sangat setuju sudah pasti dipandegani Ki Lurah Barghowi.

“Ki Lurah sangat berani,” kata Modin dengan suara tercekat. “Apakah Ki Lurah tidak takut kuwalat?! Hukum adat itu sudah ratusan tahun dijalankan. Bolehlah Ki Lurah tidak takut kuwalat, tapi mohon hormati yang menciptakan hukum adat itu,” kata Modin lagi memohon dengan menghiba.

“Hukum adat itu sudah tidak relevan lagi. Bahkan di dalamnya mengandung unsur sadisme. Makanya harus dihapus dan ditiadakan.”

“Justru hukum adat itu sangat relevan di masa kini, di mana dekadensi moral semakin bobrok. Ia memberi pelajaran efek jera bagi siapa pun yang akan berbuat zina. Zina adalah dosa besar  dan siapa pun pelakunya harus dirajam!”

Adalah Simbah Ibrahim dan Nyai Halimah pencetus hukum adat “Pengantin Tujuh Purnama”. Konon kabarnya Simbah Ibrahim adalah salah satu santri dari Wali yang ada di tanah Jawa. Setelah dirasa cukup ilmunya Simbah Ibrahim mendapat perintah dari gurunya agar berjalan kearah utara. Santri yang sangat tawadhuí itu menuruti perintahnya. Ketika sampai di sehampar lereng yang diapit dua bukit kembar di mana di tengahnya terdapat sebuah sungai Simbah Ibrahim terpesona. Dan memutuskan akan membuka kampung baru bersama 40 pengikutnya. Pilihannya tidak salah, hamparan lereng itu sangat subur hingga mereka bisa hidup rukun dan makmur. Selain menciptakan hukum adat “Pengantin Tujuh Purnama” beliau juga mengajarkan cara membuat rumah adat. Rumah adat dengan dapur yang berada di sisi kiri rumah yang menghubungkan ke pintu tengah dan ruang tamu. Maksudnya kalau menyuguhi tamu biar mudah. Juga kamar mandi selalu ada di depan rumah, yang maksudnya agar kalau bangun tidur jangan kesiangan. Kalau kesiangan bila mau mandi atau mengambil air wudlu untuk sembahyang maka menjadi malu.