Mertuaku orang kampung yang sangat ramah. Ayah mertuaku bekerja sebagai tukang panjat kelapa. Penghasilan mereka lumayan. Tetapi tidak sanggup menguliahkan Nur dan enam saudaranya yang lain.

Aku sangat menikmati kehidupan di Peudawa. Meskipun menikahi putri desa mereka dengan cara tidak sopan, masyarakat tidak menunjukkan raut muka tidak suka padaku. Setidaknya di hadapan. Aku tidak peduli apa pun yang mereka katakan di belakang. Kalaupun mereka mengumpat dan memaki, itu wajar. Bahkan kalau digebuki pemuda desa itu sangat wajar. Karena sadar punya kesalahan dengan masyarakat Peudawa, aku bersikap sangat sopan pada masyarakat desa itu. Mungkin karena pandai melantukan azan, bagus menjadi imam, pandai mengaji dan mampu membaca kitab kuning, maka masyarakat menghormatiku.

Aku sangat aktif dalam setiap kegiatan desa. Namaku menjadi semakin tenar di Peudawa setelah berhasil mewacanakan dan melaksanakan program perpustakaan kecamatan. Sebenarnya aku tidak bisa berbohong dan tidak pintar  basa-basi. Aku menyukai atau tidak kepada seseorang atau suatu masyarakat sesuai dengan sikap dan tindakan mereka. Aku sangat salut dan menaruh hormat pada masyarakat Peudawa karena mereka sangat menghargai peninggalan pendahulu mereka.

Masyarakat tidak sedikitpun mengganggu masjid lama ketika berencana membangun masjid yang baru. Mereka memilih membebaskan tanah lain tidak jauh dari masjid lama untuk membangun masjid baru yang sangat besar, kokoh dan indah. Corak masjid baru tidak meninggalkan identitas masjid Samudra Aceh Timur yang khas yaitu dua tingkat, corak jendela atas dan bawah sama. Kuburan-kuburan yang ada di pekarangan masjid lama tidak satu pun terganggu. Bahkan pekarangan masjid lama masih bisa diisi makam baru yang karena lahan masih luas.

Bandingkan dengan banyak daerah lain yang ketika membangun masjid baru, mereka menghancurkan masjid lama. Padahal masjid lama masih sangat indah dan kokoh. Yang lebih penting adalah, arsitektur masjid lama yang sangat unik, keindahan arsitektur dan seni ukir, relief serta kaligrafi peninggalan pendahulu dimusnahkan tanpa pikir panjang. Padahal itu semua adalah identitas dan jati diri daerah mereka masing-masing. Masyarakat Peudawa tidak demikian. Mereka benar-benar menghormati warisan pendahulu.

Tetapi mereka butuh sedikit sentuhan.

Masyarakat membiarkan masjid lama terbengkalai begitu saja. Aku menyempatkan diri melihat-lihat serta memeriksa secara detail seluruh bagian masjid lama. Subhanallah. Sangat indah. Ciri khas Negeri Samudra, Aceh Timur dapat ditemukan dengan jelas. Masjid Aceh Timur punya karakter ukiran jendela yang khas. Dua tingkat jendela biasanya dilengkapi lantai masjid dua tingkat. Tetapi bagian tengah dan depan pada lantai dua dibiarkan sehingga sebagian orang yang di saf depan lantai dua dapat jelas melihat imam dan khatib bila sedang khotbah.

Advertisements