Cerpen Miswari (Serambi Indonesia, 23 Juni 2019)

Nur Peudawa ilustrasi Serambi Indonesiaw
Nur Peudawa ilustrasi Serambi Indonesia

MENYADARI rumah tanggaku tidak dapat dipertahankan lagi, aku memilih menikahi Nur. Tidak ada yang istimewa dari Nur, kecuali dia sangat manis, perempuan kampung, perawan yang hampir tua. Umurnya sudah 37. Tetapi karena tubuhnya belum pernah disentuh laki-laki, maka dia masih terlihat seperti gadis 22 tahun. Apalagi tubuhnya mungil dan wajahnya imut. Aku memanfaatkan peluang yang kulihat dari wajahnya yang cemas akan menjadi perawan tua, dan keresahan orang tuanya yang khawatir anak gadis mereka belum laku-laku.

Aku membawa Nur lari menikah di sebuah dayah tidak jauh dari Banda Aceh. Penghulu liar menelepon ayah Nur. Tidak diangkat. Dicoba telepon abangnya yang sedang bekerja di Malaysia. Gagal terhubung. Lalu pamannya. Teungku memberitahu paman Nur untuk memberikan izin keponakannya dinikahkan denganku.

“Kalau tidak diizikan mereka akan berzina,” kata Teungku. “Kalau itu terjadi, tidak hanya keluarga, tetapi seisi kampung bisa ditimpa musibah.” Pamannya tidak dapat berkata apa-apa.

Wakilah pernikahan dilakukan. Maharnya tiga gram emas murni. Wajah Nur tampak sangat bahagia saat aku meliriknya sambil melafazkan ijab kabul. “Saya terima nikahnya…” sahutku mantap. Khutbah nikah singkat diberikan Teungku. Diajarkan cara menghemat air dan dianjurkan menghafal beberapa ayat Alquran sebagai pegangan agar rumah tangga langgeng.

Setelah pernikahan praktis itu, sekitar dua puluh hari aku dan Nur tinggal di sebuah rumah bantuan tsunami. Terletak di sebuah desa tidak jauh dari Banda Aceh. Rumah itu dipinjamkan oleh temanku  seorang kepala desa. Dia punya sembilan rumah bantuan. Kata dia aku bisa tinggal kapan saja aku suka, dengan syarat tidak melaporkan jumlah rumah bantuan yang dia miliki kepada pihak berwajib. Aku kurang nyaman di rumah itu. Tetangga punya warung. Kalau malam pemuda berkumpul dan suara mereka sangat berisik hingga larut malam menjelang azan Subuh. Air pet juga sering macet. Ini sangat menyulitkan bagi pengantin baru. Padahal terkadang kami harus mandi hingga empat kali sehari.

Nur menelpon orang tuanya di Peudawa. Dia memberi penjelasan baik-baik. Orang tuanya paham dan menunggu kepulangan kami. Aku merasa sangat nyaman di rumah mertua baruku itu. Rumah mertuaku dari papan. Lantai semen. Sangat luas. Pekarangan juga sangat luas. Di empat penjuru banyak tumbuh berbagai jenis pohon. Terutama kelapa. Rumah tetangga terdekat berjarak lumayan  jauh. Rumah itu menjadi sangat sejuk.

Advertisements