Lama-kelamaan wisata cuci mata itu tercium oleh masyarakat lebih luas. Bahkan kali ini tidak hanya para pemuda yang masih umur belasan saja, namun para om-om pun tak mau ketinggalan. Kali ini semakin ramai saja makam Nyai Malinda, orang-orang menyebutnya begitu. Menambahkan gelar nyai sebelum nama populer Malinda. Sungguh sangat ramai, hingga semua itu telah dijadikan sebagai tambang untuk mengeruk uang bagi warga setempat. Kepala desa pun memberi ijin kepada masayarakat untuk menjadi tukang parkir di makam tersebut, termasuk juga berjualan makanan untuk buka puasa bagi para pengunjung.

Masyarakat setempat pun sepertinya sangat senang, ketika banyak mobil mewah berdatangan dari berbagai kota besar di negeri ini. Para konglomerat pun menyempatkan diri bersama teman-teman seperjuangannya untuk menyaksikan kemegahan wisata cuci mata ini. Wow, sungguh sangat aneh. Sebuah makam menjadi tempat wisata yang begitu ramai, pengunjung setiap harinya semakin bertambah. Ibaratnya, setiap satu pengunjung hari ini akan bercerita setidaknya kepada dua orang untuk berkunjung besok.

Bayangkan saja bila hari ini yang berkunjung dua ratus orang, pasti otomatis besok akan datang empat ratus orang yang berbeda. Bukan main, itu setiap hari pada bulan Ramadan. Kalau seperti ini terus-menerus pasti kelak makam Nyai Malinda ini akan dikelola oleh dinas pariwisata, sebagai sebuah wisata cuci mata yang paling menghebohkan sepanjang abad ini.

Semakin hari komplek pemakaman Nyai Malinda semakin hiruk-pikuk dipadati peziarah. Juga otomatis warga setempat pun memanfaatkan sebagai lapangan kerja, semakin banyak yang menjadi tukang parkir, pedagang, hingga ada beberapa warga yang memiliki modal telah mendirikan penginapan di sekitar komplek pemakaman tersebut.

Sampai-sampai para keluarga peziarah makam lainnya pun kehabisan tempat untuk sekadar membisikkan doa kepada mendiang arwah yang jasadnya diabadikan bertetanggaan dengan makan Nyai Malinda. Lalu ada beberapa warga setempat, termasuk kepala desa beserta para jajaran kabinetnya berniat untuk mengadakan rapat guna mencanangkan penutupan komplek pemakaman tersebut.

Kepala desa sempat menuturkan, jika para keluarga yang memiliki sanak saudara yang di makamkan di komplek pemakaman tersebut dan mereka merasa terganggu dengan adanya wisata cuci mata, maka kepala desa beserta para jajaran kabinetnya dan juga warga kampung siap untuk membantu pembongkaran serta pemindahan jasad-jasad yang diabadikan bertetanggaan dengan makam Nyai Malinda tersebut.