Cerpen Setia Naka Andrian (Suara Merdeka, 23 Juni 2019)

Makam Nyai Malinda ilustrasi Hangga - Suara Merdekaw.jpg
Makam Nyai Malinda ilustrasi Hangga/Suara Merdeka

Malinda, begitulah nama dalam nisan yang selalu basah dengan aroma kembang-kembang. Kerumun orang-orang pun mengantri dari hari ke hari. Sungguh, tak seperti pada umumnya peziarah datang ke makam alim ulama atau kiai. Kali ini nisan yang bertulis Malinda pun ramai pengunjung. Lebih-lebih ketika Ramadan seperti ini.

Para pengunjung juga bukan peziarah pada umumnya. Mereka datang dengan busana yang nyetil, banyak orang menyebut itu gaya you can see. Wow, siapa sebenarnya Malinda? Banyak orang bertanya-tanya seperti itu. Apakah ia dulunya seorang istri kiai besar? Atau mungkin ia seorang pemuka agama yang tersohor pada masanya? Warga kampung sekitar pun dulunya sering memperdebatkan tentang hal itu, namun jarang yang berani angkat bicara berpanjang lebar. Kebanyakan memilih untuk diam. Takut kalau terjadi apa-apa. Maklum karena berurusan dengan makam.

Pengunjung datang dari berbagai kota. Peziarah yang aneh, mengenakan pakaian yang aneh-aneh pula. Tidak wajar sebagai seorang peziarah. Kebanyakan perempuan cantik-cantik dan seksi-seksi yang datang ke makam itu. Mereka menebar aurat. Hingga terkadang membuat para pemuda warga kampung setempat dijadikan sebagai wisata tersendiri, mereka menyebutnya sebagai wisata cuci mata.

Setiap kamis sore para pemuda yang kebanyakan berumur belasan tak ingin ketinggalan untuk berwisata di makam Malinda. Bukan untuk menyaksikan makam Malinda yang biasa-biasa saja itu, makam yang hanya ditandai dengan nisan beton kusam tanpa cat. Tak lain mereka ingin menyaksikan para peziarah yang cantik-cantik, menor, bahenol dan seksi-seksi setiap harinya. Lebih-lebih pada bulan Ramadan seperti ini, benar-benar setiap hari selalu saja banyak peziarahnya. Sehingga membuat para pemuda sangat tak ingin ketinggalan untuk menyaksikan wisata cuci mata itu.

Hal semacam ini telah menjadi tren tersendiri bagi para pemuda setempat. Bahkan ada yang bilang kalau melewatkan satu hari saja, maka akan disebut oleh teman-temannya sebagai pemuda nggak gaul. Mereka tak peduli dengan bulan Ramadan sekalipun. Bagi mereka sore hari yang paling menyenangkan adalah ngabuburit sambil berwisata cuci mata di makam Malinda. Bayangkan saja, wisata cuci mata itu telah menandingi hingar-bingar sebuah konser musik rock kolosal termegah sepanjang abad ini. Sungguh mampu membius mereka sebagai tren tersendiri.