Cerpen Saripuddin Lubis (Analisa, 23 Juni 2019)

Lebaran di Hati Ibu ilustrasi Renjaya Siahaan - Analisaw.jpg
Lebaran di Hati Ibu ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa

MARDIAN kembali membuka ponselnya. Tangannya gelisah, dengan kalimat apa dia harus mulai percakapan WA dengan ibunya. Selepas Subuh tadi, Mardan terus berdoa agar diberi jalan terang dari Sang Penyayang. Gelisah ternyata belum juga sanggup membuka pikirannya meramu kata-kata terbaik untuk ibu. Dia tahu kalau semanis apapun dia rangkai kata-kata, ibu akan lebih tajam memahami kata hati Mardian.

Mardian harus menuliskannya segera. Dia tidak mau persoalan ini dibiarkan mengendap, tidak baik menyimpan masalah. Kata-kata ibu selalu diingatnya. Kata-kata yang selalu membuat Mardian bangga pada ibunya. Meskipun ayahnya telah meninggalkan ibu empat tahun silam. Ibu masih tetap mengucapkan kata-kata itu kepadanya.

“Bapakmu sudah pergi Mardian. Itu masalah nyawa, itu urusan Tuhan. Hidup masih berlanjut. Masalah harus diselesaikan, jangan disimpan-simpan,” ibu begitu tegar menghadapi kepergian bapak, batin Mardian.

Akhirnya meluncur juga kata-kata Mardan di lembar WA-nya, “Ibu, aku tidak tahu harus dari mana memulainya.” Sebuah kalimat pembuka yang semu. Sebuah kebiasaan Mardian ketika harus mengungkap keluh.

WA Ibu, “Hmm, pasti ada yang tidak enak ini. Sudah sampaikan saja Anakku, Nande tidak apa-apa kok!” Kalimat Ibu yang selalu penuh optimis. Kalimat yang membuat luka-luka Mardian terobati. Mardian bahagia, namun kata-kata itu juga meruntuhkan ulu hatinya. Saat ibunya memasuki usia 80, ibu masih bisa setegar itu. Usia Mardian baru memasuki 50 tahun merasa dirinya begitu rapuh dan merasa terlalu dipenuhi masalah.

WA Mardian, “Mardian dan keluarga mungkin tidak bisa berkumpul dengan Nande Lebaran ini di kampung.” Mardian memberanikan diri mengurai kata-kata itu. Kata-kata yang begitu sulit untuk dia tuliskan. Padahal kata-kata itu sudah ditabungnya semenjak sebulan sebelumnya. Mardian menunggu balas ketikan ibu berikutnya.

Sudah setengah hari pertanyaan di WA-nya belum berbalas. Mardian samakin gelisah. Segudang pertanyaan kemudian mengetuk alam hatinya. “Apakah Nande marah? Apakah Nande kesal? Apakah Nande…, ah!

Mardian merasa begitu menyesal harus melontarkan sebuah kalimat yang melukai hati ibu. Ingin rasanya Mardian menelepon ibu saja. Mardian malah khawatir, nanti hati ibu akan semakin terluka.

Advertisements