Cerpen Marliana Kuswanti (Media Indonesia, 23 Juni 2019)

Kupu-Kupu Tidak Menyakitimu ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesiaw.jpg
Kupu-Kupu Tidak Menyakitimu ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia

IS sangat sulit menerima kemungkinan suaminya tak akan pernah muncul lagi di hadapannya dan anak semata wayang mereka yang saat ditinggalkannya baru bisa mengucapkan, “Pa… Pa… Pa…,” dengan huruf ‘k’ di belakang yang hilang. Anak yang selama ini didustai Is dengan janji bahwa ayahnya pasti pulang tak lama lagi.

Kini, anak itu telah berumur delapan tahun dan mulai tak peduli lagi akan sosok lelaki dewasa yang teman-temannya miliki tetapi tidak dimilikinya. Anak itu makin jarang menanyakan bapaknya. Sesuatu yang mulanya melegakan Is. Tetapi lama-kelamaan justru membuatnya gelisah.

Anaknya menghabiskan nyaris seluruh waktu sepulang sekolah dengan bermain bola. Pulang penuh debu dan keringat, atau lumpur bila musim sedang basah. Tiba di rumah hanya untuk mandi, makan, mengerjakan PR, dan belajar sekadarnya, lalu pulas sampai pagi. Is ingin anak itu kembali sering menanyakan bapaknya.

Jauh dalam benak, Is akhirnya mau tak mau berpikir kalau mungkin orang-orang benar. Mereka bilang, suaminya pasti sudah lupa dengan anak dan istrinya tak lama setibanya di tanah rantau. Mereka juga bilang, suaminya sudah dari dahulu menunjukkan ketidakberesan. Hanya Is saja yang selalu menutup mata, mabuk kepayang oleh cinta yang kini terbukti bertepuk sebelah tangan.

Is mungkin teramat mencintai lelaki itu. Tetapi lelaki itu tidak. Tidak mencintai Is dengan besaran cinta yang sama atau malah sama sekali tidak pernah ada cinta sekelumit pun untuk Is. Hanya memanfaatkan kepolosan Is, penyerahan diri nyaris tanpa syarat kecuali keinginan agar hubungan mereka segera disahkan secara agama maupun negara.

Masih kata orang-orang, lelaki seperti suaminya mana peduli dengan status pernikahan. Di tanah rantau bertemu perawan, janda, bahkan istri orang pun akan dikejarnya sampai dapat demi memuaskan hasratnya sebagai lelaki yang selalu ingin dianggap lebih jantan daripada lelaki mana pun.

Mendengar semua itu, yang kian hari kian terdengar tak mustahil terjadi, Is jadi teringat kedua orangtuanya yang sejak awal menentang hubungannya dengan lelaki itu. Bapaknya tak sudi punya menantu sepertinya. Bapaknya bahkan rela kehilangan satu darah dagingnya kalau sampai Is nekat menikah dengan lelaki itu. Sementara ibunya terus bertanya, apakah di dunia ini sudah tak ada lagi makhluk berpelir dan lajang selain lelaki itu? Kakak-kakak Is kompak menjauhi Is. Berhenti saling sapa, pergi dari ruang tengah begitu Is ikut duduk di sana.