Cerpen A Warits Rovi (Republika, 23 Juni 2019)

Kupu-Kupu di Dalam Masjid ilustrasi Rendra Purnama - Republikaw.jpg
Kupu-Kupu di Dalam Masjid ilustrasi Rendra Purnama/Republika 

Seusai shalat Duha, Rika tak mau melangkahkan kakinya dari beranda masjid itu. Terlebih, saat sepasang matanya menatap seekor kupu-kupu bersayap kuning, bergaris merah halus, dengan taburan titik oval halus mirip tumpahan beras. Kupu-kupu itu hinggap di salah satu pilar yang ada di beranda. Tepat pada aksen yang berupa lipatan hijau, seperti gelang berantai di bagian atas.

Kupu-kupu itu mengepakkan sayapnya perlahan meski ia hanya diam.

Rika urung membuka tali mukenanya, ia malah semakin membetulkan posisi duduknya dengan bersandar ke tembok, seperti sengaja untuk berlama-lama menikmati tarian kupu-kupu itu. Dan entah apa yang kemudian ada dalam pikiran Rika saat itu, tiba-tiba ia meneteskan air mata, hingga membutir ke datar mukenanya. Ia melirik ke bagian dalam masjid, jarum merah dalam perut jam bundar masih lurus di angka sepuluh.

“Waktu Zhuhur masih lama,” gumamnya sambil kembali menyandarkan kepala ke tembok.

Si penjaga masjid yang berkumis tebal baru saja memulai tugasnya, menyapu lantai sambil sesekali melipat beberapa sajadah yang berserak di beranda. Hal yang paling tidak nyaman bagi Rika adalah ketika si penjaga masjid itu datang dan di masjid itu tak ada orang lain lagi selain mereka berdua. Ia khawatir terjadi fitnah.

Rika berdiri dan melangkah ke arah kupu-kupu itu. Si penjaga masjid terus menyapu hingga di bagian yang dekat kepada Rika. Sesekali, lelaki itu melirik seperti hendak mengatakan atau bertanya sesuatu. Rika merasakan itu sejak kedatangannya ke masjid itu empat hari yang lalu.

Sejak saat itu, si penjaga masjid selalu melirik Rika, seperti menaruh rasa curiga atau entahlah, yang pasti Rika merasa tak nyaman dengan tatapan lelaki itu. Ada kalanya, ia ingin bercakap dengan lelaki itu untuk menjelaskan kedatangannya ke masjid itu bahwa dirinya ingin shalat, mengaji, dan beriktikaf supaya lelaki itu tak menaruh rasa curiga. Tapi, keinginan untuk bercakap itu selalu kandas, bahkan kadang berbalik menjadi rasa setengah benci kepada lelaki berkumis tebal itu.

Rika menjinjitkan kaki, lalu menjulurkan tangannya ke arah kupu-kupu itu hingga bagian jarinya bersentuhan dengan bagian belakang sayap yang mengepak lirih. Ia melakukannya tak lebih sekadar iseng agar tak tampak sedang risi kepada lelaki itu.

Advertisements