Cerpen Haryo Pamungkas (Denpost, 23 Juni 2019)

Alenia dan Ikan-ikan di Akuarium ilustrasi Mustapa - Denpostw.jpg
Alenia dan Ikan-ikan di Akuarium ilustrasi Mustapa/Denpost

MESKI berulang kali ditampar, atau dipukul, dan dikunci di luar rumah, aku masih tidak kapok mengobok-obok akuarium milik ibu. Mungkin sama halnya dengan ibu—yang terlihat senang ketika melihatku sempoyongan sehabis ditampar—aku juga senang melihat ikan-ikan itu klenger mabuk selepas kuobok-obok. Mereka terlihat linglung, panik berenang ke sana-ke mari tanpa arah. Dan aku melihat itu semua menyenangkan adanya.

Ikan-ikan itu, barangkali bisa bicara seperti manusia, pasti bakal mengutuk keras perlakuanku. Tapi, toh mereka cuma ikan. Apalagi dunia mereka cuma sebatas akuarium, tak akan bisa apa-apa. Mungkin ikan-ikan itu cuma bisa bersembunyi di antara hiasan-hiasan akuarium. Tapi ikan, berusaha bersembunyi bagaimana pun, kamu tak akan bisa lari dari tanganku …

Sebenarnya antara ikan-ikan itu dan aku nyaris ada kesamaan: kami sama-sama tak bisa lari atau sembunyi dari “tangan”. Ikan itu tak akan bisa sembunyi dari tanganku, dan aku juga tak bisa sembunyi dari tangan ibuku. Sekeras apa pun aku mencoba dan mencari tempat persembunyian, tangan ibu pasti bakal melayang dan mendarat tepat di pipiku.

Plak!

“Alenia!” Mata ibu selalu melotot menyeramkan, “Kenapa masih bermain-main dengan ikan itu, hah!”

Nah. Ini bedanya, selain menampar dan memukul, mulut ibu juga pasti akan mengeluarkan sumpah serapah; semacam kesumat yang sudah lama terpendam.

“Kupingmu itu masih bisa dibuat mendengar tidak?!”

Plakkkk.

Dua kali, persis sama dengan jumlah tangan. Dan pasti tepat jatuh di pipi kanan-kiriku. Jika tidak begitu, mungkin ibu tak akan puas. Sesekali tentu aku akan terisak, memerlihatkan kesedihan sambil berusaha berdiri sempoyongan. Kadang, sehabis ditampar atau dipukul ibu, kepalaku menjadi sedikit pusing, benda-benda menjadi samar dan sedikit berputar-putar. Tapi mau bagaimana pun sakitnya, aku merasa menemukan kesenangan saat membuat ikan-ikan itu mabuk hingga klenger. Jadi aku tak akan berhenti melakukannya.