Cerpen Novita Sari Purba (Analisa, 19 Juni 2019)

Sebuah Kepulangan ilustrasi Erlangga - Analisaw.jpg
Sebuah Kepulangan ilustrasi Erlangga/Analisa

Aku tak tahu kenapa aku harus pulang. Sebuah rindu? Setiap hari aku tak  berhenti merindu. Lalu, apakah aku harus pulang setiap harinya?

***

Desember di kotaku. Entah di kotamu, kawan.

Aku duduk menatap senja yang kian merapat turun menuju kaki langit. Meski MMTC kian dibabat habis dan digantikan dengan gedung dan tempat usaha, aku masih seperti dulu. Merayakan sunset di ufuk barat yang tak pernah bosan mempertontontan diri.

“Matahari saja pulang ke ruang istirahatnya, kan? Masa, kau ngak pengen pulang ke istana aslimu. Kampung halaman, bertemu keluarga, bertemu teman-teman, merayakan hari raya Natal dan Tahun Baru secara bersama-sama. Ini akan menjadi momen yang sangat hebat, Lam.”

“Aku ingin di sini saja.”

“Kenapa?”

“Aku hanya…”

“Hanya apa? Ada masalah? Emm, masalah keluarga, mungkin.”

Aku tersenyum. Afri selalu ingin tahu.

“Setiap hari masalah selalu ada…”

“Nah, justru itu. Kau bisa memperbaiki…”

“Tidak. Tak ada hal yang harus diperbaiki.”

Lima belas tahun sudah berlalu. Baru beberapa minggu yang lalu aku merayakan hari ulang tahunku yang ketiga puluh dua. Kutelusuri seluruh ruangan untuk memastikan bingkisan yang disebut sebagai kado ulang tahun itu masih ada. Ya, dia masih teronggok di sudut terhina ruang kerjaku. Kado dari ibu. Bukan, kado dari keluargaku.

Bagaimana aku akan lupa di hari itu, seseorang datang mengetuk pintu. Aku tahu ritual perayaan ulang tahun. Selalu basi dan membosankan. Aku tahu seseorang atau beberapa orang akan datang hari itu. Teman-teman sekuliah dulu, teman masa kecil, teman pernah satu kos, teman entah jumpa di mana. Di hari ulang tahun sering banyak perayaan yang tidak aku mengerti. Saat ada ketukan dari pintu, aku paham, ini tentang kue ulang tahun yang tersampir di belahan tangan, tentang lilin yang harus ditiup, tentang… tentang harapan yang dipertontonkan di depan umum. Make a wish. Ah, persetan.

Advertisements