Cerpen Muhammad Nanda Fauzan (Rakyat Sultra, 17 Juni 2019)

Topeng ilustrasi Istimewa.jpg
Topeng ilustrasi Istimewa 

Kau duduk di teras rumahmu sambil meloloskan sebatang kretek ke sela bibir, asap menguar di udara dan sedikit mengganggu pandanganmu pada gugusan bintang yang diam tapi diam-diam saling berkejaran. Ada banyak sekali hal yang bisa dilakukan manusia saat ia merasa cemas dan terancam, sembahyang atau berdoa atau menonton ceramah dari ustaz di internet, atau melakukan ketiganya secara bergantian. Tetapi kau memilih lain, menyulut sebatang kretek bukan pilihan buruk, kecuali saat dadamu mulai mendesak dan merasa nyeri.

Di atas meja bundar ada asbak, sebungkus kretek, korek api, cangkir berisi teh dan topeng dengan ukiran naga yang malam ini tiba-tiba berubah seperti cacing paling menjijikkan yang pernah ada di muka bumi. Kau membulatkan tekad untuk melenyapkan topeng itu dari semesta, tetapi kau bingung dengan cara apa ia bisa benar-benar lenyap. Meremukkannya dengan godam, melumuri dengan bensin lalu menyulutnya dengan api atau beberapa pilihan lain. Kau menimbang-nimbang, sampai kemudian teringat ucapan seorang musafir dari timur bahwa tidak ada yang benar-benar hilang dari semesta, ia hanya berubah bentuk menjadi lain.

Di tengah putaran otakmu yang bekerja menciptakan kebingungan tiba-tiba gagasan nakal muncul, bagaimana jika sebelum ia hancur kau terlebih dahulu berkelana dengannya menuju masa lalu. Barangkali akan menyenangkan, seorang terpidana mati memiliki hak untuk berbahagia sekejap sebelum eksekusi, bukan? Ia bisa meminta makanan favorit, bercinta dengan wanita atau apa saja yang masuk akal untuk diwujudkan sebelum regu tembak mengelilingi tubuhnya. Dan menunda kematian adalah hal paling menyenangkan, seharusnya.

Kau lahir saat ibumu meninggal, ayahmu tak pernah menampakkan batang hidungnya bahkan kau pernah berpikir bahwa kau adalah Isa yang lahir tanpa ayah. Tentu pikiran itu langsung kau tepis saat kau tumbuh dewasa. Nenekmu adalah generasi ke sekian yang menjadi pewaris topeng itu, artinya ia lebih tua berkali-kali lipat dari usiamu.

Topeng itu memiliki cara kerja, ia bisa kau gunakan bersamaan dengan iringan musik di atas panggung. Kau melenggokkan tubuhmu yang telah dibungkus busana mengikuti irama dan ritme, lalu uang akan datang dalam bentuk saweran. Setidaknya itu yang kau simpulkan saat melihat nenekmu bekerja dalam sebuah pertunjukan. Rupiah datang begitu mudah, berbeda dengan beberapa tetanggamu yang harus pindah ke negeri seberang untuk bertahan hidup. Kau jatuh cinta kepadanya, sebab bisa membeli banyak permen hanya dengan menggerakkan beberapa bagian tubuhmu.

Advertisements