Cerpen Adi Zamzam (Solo Pos, 16 Juni 2019)

Tawa Mbak Joyo ilustrasi Solo Posw.jpg
Tawa Mbak Joyo ilustrasi Solo Pos

Seperti biasa, beliau akan ada di cangkruk sebelah kanan jalan rumah kami, mulai pukul enam pagi hingga cahaya terasa menyengat. Kebetahannya akan semakin menjadi jika didukung segelas kopi dan terutama teman mengobrol. Jangan dikira obrolan Mbah Joyo hanya seputar perkara sawah atau ternak. Kadang aku merasa orang ini seperti kamus atau primbon bernyawa—meski sebagian pengetahuannya ada yang enggak update lagi.

Untuk perkara itu inginnya kuceritakan lain kali saja. Sekarang aku ingin bercerita tentang tawa Mbah Joyo dulu, yang menurutku memiliki kelebihan, dalam artian seperti dalam ceritaku berikut…

“Ajak Mbah Joyo saja, biar nanti kamu ndak ditengkik orang.”

“Ajak-ajak orang kan harus ada uang makannya, Mak. Lagian, mengapa harus Mbah Joyo kalau yang muda dan kuat mengangkut kambing ada banyak.”

“Diajak masuk warung gule paling habis berapa sih, Mun? Kalau mengajak orang lain, memangnya ndak kamu ajak makan juga tah?”

Akhirnya aku manut. Kalah otoritas. Bagian terpentingnya baru kuketahui ketika kami kemudian mulai samasama menawar kambing.

Begitulah. Kambing untuk akikah syaratnya haruslah jantan, poel, tanpa cacat, dan terutama gemuk (Emak menambahi syarat terakhir ini demi agar ketika keluarga besar kumpul, semua bisa merasakan kebahagiaannya). Tentu saja di Pasar Wage Mayong ada banyak kambing yang bisa kupilih dengan harga bervariasi.

Yang sedikit membuatku sebal adalah keisengan beliau yang sesekali mencampuri transaksiku.

“Kambing yang kamu tawar itu habis sakit, Mun. Cuma tulang-tulang doang kok dihargai segitu.”

“Mbah, Mbah… kambing beringas gini kok dibilang sakit. Ini lihat,” si pedagang itu menendang pantat kambingnya hingga melompat-lompat kesetanan. Aku sih setuju dengan pedagang ini. Tapi Mbah Joyo malah tertawa ngablak sembari kemudian menarik lengan kananku menjauhi si pedagang tadi.

“Aku tahu kalau duitmu cuma segitu. Tapi aku juga tahu kalau dia hampir saja menipumu. Kamu ini jelas ndak ngerti mana kambing berdaging dan mana kambing yang cuma tulang. Ayo, aku antar ke kambing berdaging,” Mbah Joyo menyeretku ke seorang pedagang kambing yang rupanya sudah ia “pojokkan” ke pinggiran pasar.

Advertisements