Cerpen Komala Sutha (Denpost, 16 Juni 2019)

Suci Penuh Debu ilustrasi Mustapa - Denpostw
Suci Penuh Debu ilustrasi Mustapa/Denpost

ANGIN malam berhembus membelai wajahku, mengeringkan peluh di kuduk mulusku. Pria itu berlalu dari hadapanku setelah sebelumnya memeluk tubuh rampingku dan mengecup keningku. Tak lupa, tangan kekarnya menyelipkan beberapa lembar, entah berapa lembar, mungkin lima, enam atau lebih, uang kertas bergambar sang proklamator ke dalam genggaman tanganku yang dingin.

Kutatap dengan nanar punggung pria itu hingga masuk ke dalam mobil mulusnya. Dia berperawakan tinggi tegap dengan dada yang bidang. Pria yang cukup tampan meski usianya sudah beberapa tahun beranjak dari limapuluh. Pria yang selalu ingin berada di dekatku, mengharap belaian tanganku dan selalu merindukan rayuan yang keluar dari mulut harumku. Aku tak pernah bisa menolak permintaan pria itu, pria yang tak menyadari kalau dia memiliki putri seusiaku.

“Pandai-pandailah kamu memikat hatinya, Suci!” bisik Papa ketika untuk pertama kalinya pria itu datang ke rumahku yang sederhana di perumahan kumuh. Pria yang mengaku dengan jujur beristri cantik dengan tiga putri yang sudah beranjak remaja itu datang bukan untuk Papa, namun untuk memastikan apakah aku benar-benar gadis cantik nan menawan sebagaimana yang telah diceritakan Papa kepadanya. Pria yang akhirnya kutahu bernama Willy, tak pernah selingkuh, tak suka bermain dengan perempuan jalang mana pun, tiba-tiba merasa tertarik dengan cerita Papa mengenai aku, putrinya yang sangat pintar yang sudah tak memiliki Mama.

“Suci…” bisik  Papa di telinga, ketika Willy duduk di hadapan kami. Tatap matanya mengamatiku mulai dari atas kepala hingga bawah kaki. Aku tak membalas bisikan Papa. Hanya mengangguk. Kalaupun tak mengangguk, tentu Papa mengartikan sendiri jawabannya. Aku tak mungkin menolak keinginan Papa untuk selalu mau memenuhi permintaannya. Berkencan dengan pria yang bisa memberi uang yang tak sedikit jumlahnya. Ya, aku hanya bisa mengangguk. Selalu seperti itu setiap kali Papa membawa pria, memperkenalkan yang selanjutnya meminta aku mau menemani pria itu pergi kemana saja. Makan di restoran mewah, belanja keperluanku, nonton di bioskop sampai tidur di hotel berbintang.

Satu kali, dua kali, tiga kali, entah berapa belas kali mungkin puluhan kali, aku harus menyuguhkan senyum yang palsu pada pria yang hampir semuanya seusia Papa. Awalnya itu berat bagiku, namun dengan lembut Papa terus mengajariku hingga aku pun terbiasa. Willy, pria kesekian kalinya yang akan memberiku banyak rupiah asalkan aku mau memenuhi hasratnya.