Cerpen Evi Idawati (Kedaulatan Rakyat, 16 Juni 2019)

Paras Kegaiban ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyatw.jpg
Paras Kegaiban ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

AKU memahami, berada di dalam rumah kegaiban bukanlah hal yang mudah di terima oleh akal. Apalagi jika tidak pernah menginginkannya, tetapi dipaksa untuk berada di sana. Keimanan terhadap hal-hal yang gaib menjadi jalan utama untuk terus meyakini bahwa dunia dan semesta bukanlah apa yang terlihat oleh mata saja, namun ada yang hidup dan bergerak di luar apa yang  diketahui sebelumnya. Lalu bagaimana jika apa yang terlihat oleh orang lain, bukanlah hal yang sama seperti yang terlihat oleh mata kita? Aku bukanlah orang yang saleh. Hari-hariku hanya kuhabiskan dengan duduk melihat langit dan menyapanya dengan salam sejahtera agar dia mau menjawabnya sesekali sambil membukakan dirinya serta menampakkan apa yang berada di dalamnya.

Pagi dan senja adalah waktu yang tak pernah aku lewatkan untuk bersama dengannya. Namun suara angin yang menggerakkan daun-daun. Desir dan geliat embun. Kabut yang mengkristalkan dirinya, tasbih batu-batu dan jerit cinta burung-burung kepada pemiliknya, selalu menjadi teman setia. Mereka ada yang menemani. Tapi siapa yang peduli. Saat detak jantungku mengalun dengan cepat, aku merapatkan diri, bernyanyi dan mendendangkan segenap salam dan doa agar utuh dan patuh. Mereka menjadi ruang yang membawaku tenang di dalam kebaikan.

Ya, doa-doalah yang membuatku membuka diri pada ketenangan. Sengaja aku buka hatiku untuk menerima nama yang banyak dikatakan orang sebagai ketenangan. Betapa tidak, bila belum pernah memilikinya maka apa yang disebut tentram dan bahagia tak pernah hadir dalam hidupku. Maka aku sungguh-sungguh berdoa dan berupaya untuk terus menerus mengakrabi doa-doa.

Doa hadirlah utuh pada diriku, agar bisa kudendangkan dengan harapan untuk terwujud tanpa halangan. Bisikku pelan pada senja yang mulai menyapa. Aku sengaja mengajaknya berbicara agar apa yang aku kenali menjadi lebih akrab lagi. Begitulah memang caraku untuk menjadikan doa sebagai sahabat gaib, mungkin berbeda dengan cara-cara teman lainnya yang menempatkan doa sebagai harapan dan jalan keluar dari semua permasalahan yang dihadapi. Doa adalah tenaga gaib, paras kegaiban yang akan menjadi pendaran cahaya dengan ledakan warna-warni. Bila sudah terlihat oleh mata warna-warnanya, maka dunia tampak indah tanpa cela. Semua akan mempesona. Hanya yang sudah akrab dengan doalah yang mampu melihat dengan kecantikan utamanya.

Advertisements