Raja panik, tersadar, tak tahu keberadaan Bulan. Begitu samar dan terbayang-bayang wajah-wajah itu. “Di mana Bulan? Di mana dia?”

“Wahai, Raja, tadi Bulan hendak membunuhku!” jawab Ayu.

Raja tersentak. “Dari mana kau tahu dia hendak membunuhmu?!”

“Karena aku juga hendak membunuh dia.”

“Oh, celaka. Di mana Bulan? Di mana dia?”

“Dia sudah lari. Bulan mengancamku, kalau tidak membantu, dia dan Rangga akan membunuhku kelak. Aku sebenarnya jatuh cinta kepadamu, wahai Raja yang mulia karena legong ini. Kawinilah aku, yang akan berkorban untukmu. Jadikan aku perempuan pertama yang menarikan legong. Sejak kita berjumpa, aku sudah jatuh cinta padamu.”

Raja terpesona. Rayuan Ayu seolah-olah itu ucapan tulus bagai air sejuk menyiram jiwanya. Namun itu belum cukup. Gerakan Ayu memang lebih sempurna. Dia lebih dikagumi rakyat, patah-patahnya lebih kuat. Dia juga lebih cantik, kata semua orang. Walau kata semua orang, bukan kata dia.

Raja tersenyum, ingin menunjukkan kebijaksanaan terhadap cinta. Ia yang selama ini tak pernah puas dalam bercinta, terpaksa menerima kenyataan ini. Sungguh menyedihkan.

“Baiklah, aku terima cintamu dengan jiwa besar. Aku harus biarkan Bulan pergi. Aku akan meminangmu untuk menutup aibku telah tertipu. Aku tidak akan membunuh Rangga. Sudah takdir mereka tak bisa dipisahkan. Tarikan legong sampai pagi. Jangan kaupotong adegan-adegan percintaan itu sampai aku tak lagi dibutakan cinta Bulan.”

Ayu kembali menari, menari penuh irama cinta untuk Raja yang kehilangan cinta. Namun ia hanya pura pura jatuh cinta demi menjadi biang legong.

Raja menikmati adegan percintaan Ayu yang palsu, terbujur di singgasana bagaikan serangga tua putus asa. Tubuhnya mengerut dingin menjelang pagi dan matanya terpejam rapat. Ketika mendengar Bulan mati terbunuh di sungai pagi hari karena melawan saat hendak ditangkap dan Rangga sudah ditawan bala tentara, ia seperti terbangun dari mimpi. Legong itu telah dibawa sampai mati. Ya, legong itu hanya miliknya.

Ayu mengalah, terus berpura-pura. Namun dia cuma sanggup bertahan beberapa hari. Ia pun lari dari istana dan tak kembali lagi. Ia tak sanggup berpurapura terus sebagai penari legong yang agung. Ia tak mampu mengemban tugas terlalu lama sebagai biang legong.