Cerpen Umi Salamah (Jawa Pos, 16 Juni 2019)

Kedai Kopi Tempo Dulu ilustrasi Budiono - Jawa Posw.jpg
Kedai Kopi Tempo Dulu ilustrasi Budiono/Jawa Pos 

Segalanya telah berubah sekarang. Tempat ini, rasa kopinya, dan suasananya. Tapi, ironisnya, aku tak bisa melupakan tempat ini.

KAU selalu saja menggerutu setiap datang ke tempat ini. Suasana hatimu menjadi buruk. Anehnya, kau seminggu sekali mengunjungi tempat ini. Tempat ini, kedai kopi malabar ini bukan lagi kedai kopi tempo dulu. Gedungnya saja beda. Suasananya pun berbeda. Tapi, kau bersikeras harus mengunjungi kedai kopi malabar ini setiap minggu. Kau menyesap kopi malabar original-mu. Memejamkan mata untuk menyatu dengan aroma dan rasa kopi. Tapi, suara bising di sekitarmu merusak konsentrasi. Kau mirip pertapa yang gagal dalam pertapaan karena godaan bidadari. Sia-sia saja.

Sialnya, ini hari Minggu. Kedai kopi malabar ini dipenuhi keluarga dan klub entah apa yang masing-masing orang memegang gadget. Mereka kadang bersorak senang, kadang memekik kesal. Tempat ini sudah semacam playground dengan anak-anak yang berlarian ke sana kemari.

Ah, ini sungguh menyebalkan. Seharusnya kau mencari kedai kopi malabar yang lain saja. Di daerah ini begitu banyak kedai kopi malabar. Tapi, kenapa kau malah datang ke sini setiap hari Minggu? Hari yang sialnya akan penuh pengunjung. Tujuan mereka bukan menikmati kopi malabar, melainkan bermain. Kau pun tahu itu dengan baik.

Hari ini kau mendapat sebuah anugerah. Hanya kau dan wanita berpakaian serbaputih yang duduk diam tanpa gadget. Posisi kalian bahkan sama. Duduk menyilangkan kaki dengan tangan kanan memegang cangkir. Posisi khas penikmat kopi malabar tempo dulu.

Melihatnya mencerminkan dirimu dan tempo dulu. Kedai kopi malabar tempo dulu hanya untuk orang-orang yang ingin menikmati cita rasa kopi malabar. Tak ada gadget atau pengganggu. Bahkan, pasangan sekalipun. Jika kau ingin menikmati kopi malabar seutuhnya, kau harus datang sendirian ke sini. Tanpa pasangan.

Kau menyesap lagi kopi Malabar original-mu. Kau berada di persimpangan kebimbangan, antara ingin menghampiri wanita itu atau diam di sini memperhatikannya dari jauh. Kau tahu aturan dulu, jangan menghampiri seorang wanita yang duduk sendirian di kedai kopi malabar. Bisa jadi dia sudah memiliki pasangan. Sebab, tempat ini dulu satu set, hanya ada satu meja dan satu kursi. Seolah dirancang untuk sendirian. Sekarang jangan ditanya. Sudah mirip dengan gerai fast food.