Cerpen Adam Yudhistira (Fajar, 16 Juni 2019)

Hikayat Badik Tua ilustrasi Syahrizal - Fajarw.jpg
Hikayat Badik Tua ilustrasi Syahrizal – Fajar

Malam masih terlampau muda ketika aku dan Boneh duduk ke kedai kopi Mak Liamah. Boneh sangat menyukai aroma kopi bikinan perempuan tua yang masih gemar bersolek itu. Sedangkan aku tak begitu menyukainya. Apabila ada yang kusukai dari kedai ini, itu adalah kecerewetan mulut-mulut pelanggannya ketika sedang mengolokolok Boneh. Dari balik jaket berbau apak ini aku kerap mendengar dirinya menjadi bulan-bulanan.

“Kau selalu murung, ya?” Mak Liamah menegur sambil meletakkan segelas kopi mengepul di hadapan Boneh. “Berapa kau jual senyummu itu, sampai pelit betul kau memberikannya?”

Boneh mendengus. Mak Liamah terkikik geli, disusul gelak tawa para pengunjung. Aku hapal betul siapa saja pengunjung kedai kecil ini. Tidak ada yang lebih mulia dari Boneh. Somad, Gafur, Darmadi, adalah pecundang kelas teri di kampung ini. Mereka bertiga seperti gerombolan perempuan yang gemar beradu bual di kedai Mak Liamah saban malam.

Kang Somad mengerling pada Boneh. “Janda mana yang akan kau gerayangi malam ini?” tanyanya disambut tawa membahana.

Boneh masih diam saja. Ia mengacuhkan ledekan Somad, tapi aku justru meradang. Somad ini lelaki tak tahu diri. Tiga malam yang lalu, aku dan Boneh memergokinya keluar dari rumah Maimun—janda satu anak yang baru ditinggal mati suaminya. Lagaknya macam paling suci saja ketika mengolok-olok Boneh. Padahal dirinya sendiri adalah lelaki paling bejat di kampung ini. Rasanya, aku bersedia menembus perut buncitnya itu dengan ujung mata lancipku ini jika Boneh menghendaki.

“Kau yakin ada yang suka dengannya, Somad?” celetuk Gafur, ditimpal tawa bergelak Darmadi dan Mak Liamah.

“Menurutku, anak ini lumayan juga,” cetus Mak Liamah sambil mencolek dagu Boneh, tapi lekas ditepis. “Kalau saja aku masih muda, aku mau jadi istrinya.”

“Tapi sayang, kau sudah tua,” seloroh Somad.

Baca juga: I Marabintang – Cerpen Risya Marennu (Fajar, 28 April 2019)

Mak Liamah memaki dengan kata-kata kotor dan kedai kecil ini kembali ramai oleh gelak tawa. Tibatiba Boneh meletakkan tubuhku ke atas meja dengan keras. Sorot mata, gurat keras tulang rahang, dan matanya yang menyorot tajam itu, cukuplah menjadi peringatan. Aku bisa merasakan ketakutan mereka ketika menatap kilat amarah di mata Boneh. Ketiganya serentak terdiam dan tak lagi meneruskan olok-olok kepada Boneh.

Jika terpaksa, aku tidak takut menghabisi bajingan-bajingan itu, justru aku menyukainya. Tapi jika ditanya kepada siapa aku takut, maka jawabannya adalah kepada orangorang yang tak bersalah. Aku takut pada Boneh yang kerap menempatkaku pada situasi yang kubenci.

Sore tadi, sebelum duduk di kedai ini, Boneh membangunkan tidurku. Tubuhku diusapnya dengan selembar sapu tangan biru. Sambil membolak-balik tubuhku, ia menyenandungkan lagu sendu. Mendengarnya membuat hatiku tak nyaman, membuat tubuhku menggigil ketakutan.

***

Malam mulai renta ketika aku dan Boneh meninggalkan kedai Mak Liamah. Aku menggigil di balik jaketnya. Aku mengutuk hari di mana aku diwariskan kepada pemuda berakal pendek seperti Boneh. Dulu aku terharu ketika ia tak berpikir untuk menjualku ke pengepul besi tua. Tapi sekarang aku menyesal, sebab mestinya itulah yang harusnya ia lakukan.

Aku sadar betul bahwasanya tak ada pekerjaan apa pun yang bisa ia lakukan dengan badik tua sepertiku. Di saat kekalutan dan rasa lapar itu menggerus dinding lambungnya, saat itulah iblis melintas dan membisikkan ide-ide keji ke telinganya.

“Kau bisa menghasilkan uang dengan benda itu,” ucap iblis sambil menunjuk ke arahku.

“Bagaimana caranya?” jawab Boneh tanpa perasaan.

“Berjalanlah ke persimpangan jalan sepi di ujung kampung ini. Tunggulah pejalan kemalaman. Benda itu akan membuat mereka ketakutan dan memberimu uang.”

Baca juga: Sebuah Kabar dari Teman Kelas – Cerpen Tetta Sally (Fajar, 14 April 2019)

Boneh bimbang. Aku menjeritjerit menentang. Iblis tertawa-tawa lantang. Ia gembira melihatku tak berdaya dan makin keras tertawa ketika melihat Boneh terpengaruh bujukannya. Sejak malam itu, Boneh sering membawaku. Bersama-sama, kami menghabiskan malam-malam jahanam dan penuh dosa tanpa seorang pun yang tahu.

Orang-orang di kampung ini hanya tahu jika Boneh bekerja sebagai penjaga malam di pabrik tua Koh Aliong. Tapi selain itu, orang-orang tak tahu jika ia adalah muara segala kabar buruk yang mengatakan kampung ini sarang begal. Kampungnya bromocorah yang terkenal.

Betapa benci aku pada situasi seperti ini. Ketidakberdayaan Boneh membuatku muak. Tubuhnya sehat, tapi akalnya mati. Seandainya saja aku punya kaki, pasti aku akan lari meninggalkan lelaki lemah ini. Aku sungguh tak sanggup menjadi perpanjangan tangannya berbuat dosa dan aniaya. Di hadapan pengadilan Tuhan nanti, aku tak mau menjadi saksi perbuatannya.

***

Malam mulai merangkak menuju dini hari, aku dan Boneh duduk di balik gerumbul perdu. Aku meraba rencana busuk di balik tempurung kepalanya. Menebak rencananya semudah mencuil tahi gigi yang terjepit dengan ujung mata runcingku. Di balik jaketnya aku menggeletar ngeri, di balik gerumbul belukar ini, Boneh duduk menunggu mangsa dengan setia. Persis serigala menunggu domba.

Aku berdoa sekeras-kerasnya, agar tak ada pejalan kaki yang melewati jalan ini. Aku berharap doaku terijabah, namun sepertinya Tuhan sudah tuli, atau tak peduli, atau sudah mati, sebab di ujung sana, seberkas sinar menyala, memancing seringai senang di bibir Boneh. Seorang pemuda berjalan sendirian, dengan tas tersampir di bahu.

Baca juga: Sang Pelarung Sepi – Cerpen Andi Muladettia (Fajar, 12 Mei 2019)

Boneh melompat tiba-tiba. Pemuda itu terpekik lantaran terkejut dengan kehadirannya. Boneh pasang muka garang. Pemuda itu berdiri dengan tenang. Boneh lalu mengacungkan ujung mataku ke ujung mata pemuda itu. Tapi betapa takjub aku melihat sinar mata itu. Tak sedikitpun menyiratkan rasa takut. Tak seperti korban-korban kami selama ini, yang langsung mengigil apabila bersitatap dengan sorot mataku yang mengancam. Pemuda ini sangatlah tenang. Aku merasakan Ërasat tanda bahaya.

“Serahkan uangmu!” bentak Boneh.

“Tak ada uang,” jawab pemuda itu.

“Kalau begitu serahkan barang yang melekat di tubuhmu! Jam tangan! Kemeja! Apa saja! Aku butuh semuanya!”

Boneh merenggut tas yang ada di punggung si pemuda, namun pemuda itu menepisnya sekuat tenaga. Seperti tak mau berpanjang kata, Boneh menghunus tubuhku. Menyerang membabibuta. Namun si pemuda ternyata bukanlah pemuda lemah seperti yang kukira. Ia melawan sekuat tenaga. Berkelit lincah menghindari tebas-tusukanku yang menggila.

Seandainya saja aku bisa berbelok arah, ingin betul rasanya aku berbalik menghunjam ke perut Boneh. Jika hanya mati yang mampu menghentikan laku jahat pemuda ini, maka dengan senang hati aku bersedia menjadi perantaranya. Namun, harapanku sia-sia. Di tangan Boneh aku tak lebih berharga dari sepotong besi tua. Apa dan bagaimana kehendak Boneh, aku hanya bisa mengikutinya.

Dalam perkelahian itu, aku terus berdoa, agar Boneh berhenti, dan kali ini sepertinya doaku akan terkabul. Pemuda itu berhasil merampasku dari tangan Boneh. Secepat kilat, ia menusukkan ujung mataku ke lehernya. Terasa hangat dan lembab ketika aku menerobos daging tuanku sendiri, menetak urat besar dan menyentuh sedikit tulang di tenggorokkannya.

Baca juga: Si Malas – Cerpen Muhammad Naufal Mahdi (Fajar, 05 Mei 2019)

Boneh ambruk ke tanah. Lehernya memancurkan darah. Pemuda itu berdiri sambil mengelap darah di tubuhku dengan ujung baju kausnya. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebungkus rokok lalu menarik sebatang dari dalamnya. Setelah mengisap rokoknya dengan ketenangan yang menakjubkan, pemuda itu menimang-nimang tubuhku, memandangiku dengan penuh minat.

Semula kusangka pemuda itu akan menjadi tuan baruku, tapi pada detik harapan itu muncul, tiba-tiba ia melemparkan tubuhku. Ia berlalu dengan langkah santai, meninggalkan tubuh beku Boneh yang terkapar bermandi darah dan temaram sinar rembulan. Tepat sesaat sebelum tubuhku lenyap ditelan aliran sungai keruh pekat ini, aku masih melihatnya meludah dan membuang puntung rokoknya ke atas tubuh Boneh.

Aku betul-betul tak menyangka jika hikayatku akan berakhir seperti ini. Tapi aku bersyukur, setidaknya aku lebih tenang. Di sini aku akan menunggu karat-karat menggerogoti tubuhku. Aliran sungai ini akan membasuh dosa-dosaku, melenyapkan bau amis darah yang melekat, sampai akhirnya musnah dan tak lagi berbentuk badik tua. (*)

 

Adam Yudhistira bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, cerita anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah tersiar di berbagai media massa cetak dan online di Tanah Air. Saat ini aktif di komunitas sastra Pondok Cerita dan mengelola Taman Baca Masyarakat Palupuh untuk anak-anak. Buku kumpulan cerpen terbarunya Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (basabasi, 2017).