Cerpen Komala Sutha (Pikiran Rakyat, 16 Juni 2019)

Akibat Zaman ilustrasi Rizky Zakaria - Pikiran Rakyatw.jpg
Akibat Zaman ilustrasi Rizky Zakaria/Pikiran Rakyat

Tepat pukul 24.00 WIB ketika ponsel butut Mulyadi berbunyi. Sontak matanya terbuka dan tubuhnya bangkit dari tempat tidur. Dirabanya ponsel yang tergeletak di sebelah bantal, lalu ditempelkan ke telinga kirinya. Tidak boleh tidak. Perintah majikan harus segera dituruti.

Meskipun dengan mata terkantuk-kantuk, Mulyadi beranjak dari tempat tidur, tangannya mencari-cari stop kontak. Lalu ruangan terang. Istrinya pun terbangun dan keningnya berkerut memerhatikan suaminya yang mengenakan jaket dengan terburu-buru.

“Akang harus segera mengantarkan daging sapi ke kota,”  jelas Mulyadi tanpa diminta.

“Ini sudah larut…” tampak kekhawatiran yang dalam dari mata istrinya yang berusaha menahan kantuk.

“Ya…” kata Mulyadi pendek.

“Tak bisakah ditunda esok pagi? Atau selepas Subuh…”

Mulyadi dengan cepat menggeleng. Untuk kali ini, tidak. Ia tahu majikannya yang baik jarang sekali memberikan tugas mengantar daging sapi ke restoran langganannya tengah malam. Pasti karena darurat. Dan uang tambahan yang akan diberikan sang majikan untuknya sudah terlintas di matanya. Majikannya bukan orang yang pelit terutama kalau tugas itu dilaksanakan di luar jadwal biasa.

Tergesa-gesa Mulyadi ke luar rumah. Istrinya mengikuti hingga ke teras depan. Suara motor  terdengar memecah malam. Entah mengapa, istrinya sangat khawatir. Kecemasan yang menghinggapinya tiba-tiba. Tak seperti biasa. Sudah sering suaminya terburu-buru melaksanakan tugas majikan, tapi biasanya selepas Subuh. Atau walaupun darurat, tak pernah lewat waktu Isya.

Baca juga: Kau Tak Dilarang Bersedih – Cerpen Win Han (Pikiran Rakyat, 08 September 2019)

Mulyadi berlalu dengan motornya diiringi tatapan penuh cemas sang istri yang masih berdiri di teras rumah, tak beranjak hingga tubuh Mulyadi hilang di belokan gang.

Tidak sampai dua puluh menit, Mulyadi sampai di rumah Haji Anwar,  pemasok daging sapi ke restoran-restoran di kota.

Mulyadi menyimpan motornya di garasi setelah menerima kunci mobil boks. Tadinya ia akan menggunakan jalan lain untuk sampai ke kota.  Namun apa boleh buat,  majikannya berpesan agar Mulyadi mampir di rumah adik ipar majikan yang tinggal di sekitar Soreang. Akhirnya diambil jalanan sepi. Tiba-tiba, ia ingat istrinya. Segera tangannya meraba saku jaketnya, mencari benda kesayangannya.  Nihil. Ia menduga, ponselnya tergeletak begitu saja di atas pembaringan setelah usai bertelepon dengan majikan. Dihelanya nafas pendek. Mobil pun melaju pelan.

Malam yang dingin.  Demi mengusir rasa sepi, disetelnya tembang keroncong dari car audio.  Dua lelaki yang berdiri di pinggir jalan berhasil membuatnya menghentikan mobil.

“Mau kemana?” tanya lelaki berusia sekitar tiga puluh lima tahun. Tubuhnya tinggi dan kurus, mengenakan sweter biru dan celana jins.

“Buahbatu,” jawab Mulyadi pendek.

“Nebeng, ya? Kami mau ke kota,” jelas lelaki itu yang diiringi anggukan lelaki satunya lagi. Mulyadi berpikir sejenak. Ia membayangkan kedua lelaki itu akan memberikan ongkos sekian rupiah yang tak akan Mulyadi tentukan jumlahnya. Sudah pasti bukan ongkos biasa karena ini tengah malam buta. Lumayan  ada tambahan untuk istrinya. Bibir Mulyadi mengulas senyum.

“Gimana?” lelaki yang satu lagi, yang berperawakan pendek dan sedikit gemuk, dengan topi di atas kepala, menatap Mulyadi dengan memaksa.

Tangan Mulyadi membuka pintu mobil sebelah kiri, memersilakan kedua lelaki yang akan menjadi penumpangnya.

Baca juga: Yu Nalea – Cerpen Sungging Raga (Pikiran Rakyat, 02 Desember 2018)

Kedua lelaki itu bersiul-siul, sembari matanya mengamati di dalam mobil. Sesekali melirik ke arah Mulyadi yang dengan tenang memegang kemudi.

“Minta duit!” tiba-tiba ucapan si lelaki kurus tinggi membuat Mulyadi terkejut.

“Cepat!” seru si lelaki satunya lagi yang duduk dekat pintu. Menatap garang pada Mulyadi. Bukan main berdebar keras dada Mulyadi. Hilang prasangka baiknya. Mulailah dihantui pikiran lain. Bukan tidak mungkin kedua lelaki yang duduk di sampingnya itu pelaku kejahatan.

“Maaf, saya tak punya uang sedikit pun,” jelas Mulyadi mencoba bersuara pelan. Mobil terus melaju. Dimatikannya car audio.

“Tak mungkin!” si lelaki kurus  seolah tak percaya. “Ambil dompetnya!”

Mulyadi mengambil dompet di saku belakang celana kirinya. Lalu memberikan pada lelaki itu. Lelaki itu dengan kasar membuka paksa dompet, setelah yakin di dalamnya tak ada uang satu sen pun, dompet itu dilemparkan dengan gusar ke luar lewat jendela mobil yang terbuka lebar.

“Dasar sopir boks bokek!” lelaki itu menggerutu. Ditimpali geram suara lelaki pendek. Mereka berdua melirik ke arah Mulyadi yang tetap tenang melajukan mobil. Padahal dada Mulyadi berdegup keras. Kepalanya mencari cara agar kedua lelaki di sampingnya segera turun dari mobilnya.

“Kau berbohong ya?” lelaki kurus menatapnya dari samping dengan tatapan tak percaya. Lalu Mulyadi bersumpah bahwa ia benar-benar tak memiliki uang. Ia baru akan mendapatkan uang jika mobil boks telah kembali ke garasi di rumah majikan mungkin sekitar pukul tiga dini hari. Kedua lelaki itu diam sejenak. Tatapannya tak bersahabat sama sekali. Menakutkan.

Baca juga: Berita Duka dan Minggu yang Celaka – Cerpen Bia R (Pikiran Rakyat, 12 Mei 2019)

“Cepet berikan pada kami apa saja, yang penting barang berharga yang bisa dijual! Ponsel…” suara keras lelaki pendek. Temannya mengiyakan.

“Ponsel saya ketinggalan,” tegas Mulyadi. Kepalanya terus berpikir keras. Jalanan yang sepi, melewati hutan kecil, banyak pepohonan tua di sepanjang jalan. Ia tak berani melajukan mobil dengan cepat.

“Alah, banyak alasan!” bentak si lelaki kurus. Tiba-tiba kakinya menginjak kaki Mulyadi yang hanya mengenakan sandal. Kontan mulut Mulyadi meringis menahan kesakitan. Kaki si lelaki kurus itu bersepatu.

“Kau mau berikan kami barang berharga, tidaaaakkk?” bentaknya lagi. Injakannya semakin keras. Kembali Mulyadi meringis. Matanya hampir saja berair karena menahan sakit di kaki.

“Mungkin bacotnya bisa berhenti berdalih dengan ini!” tiba-tiba sebuah golok diarahkan si lelaki pendek gemuk, tepat di depan wajah Mulyadi yang mendadak pucat. Mulyadi membayangkan peristiwa yang sering dilihatnya di televisi. Mengenai pelaku kejahatan di malam hari pada sopir-sopir mobil pengangkut barang. Tak sedikit nyawa korban melayang. Mungkinkah malam ini gilirannya. Ia membayangkan kengerian yang sangat. Terlintas wajah istrinya yang penuh kecemasan yang tak sepert biasanya. Ia pun menyesal melaksanakan tugas dari majikan. Andai saja ia berani tak menghiraukan perintah majikan, mungkin ia tengah terlelap di atas pembaringan memeluk tubuh istrinya yang mungil. Bukan berada di daerah sepi ditemani dua begal yang bukan tidak mungkin akan mengakhiri hidupnya.

“Ampuuuuun, juragaaaannn!” nafas Mulyadi terengah-engah seperti mau kehabisan tenaga. “Saya benar-benar tak memiliki barang berharga apapun. Mohon jangan bunuh saya! Kasihanilah anak dan istri saya di rumah!”

Si lelaki yang mengarahkan golok, malah mempermainkan senjata tajam itu di muka Mulyadi. Ujungnya yang runcing berkilat tepat depan mata Mulyadi yang gemetaran tubuhnya.

Baca juga: Lukisan Berbisik – Cerpen Lina Herlina (Pikiran Rakyat, 28 April 2019)

“Kau bawa apa di belakang?” si lelaki kurus  matanya menyipit.

Mulyadi tak menjawab namun terus mencari cara melepaskan diri. Mau teriak tidak mungkin, siapa yang akan menolong di sepanjang jalan yang sepi tanpa satu pun rumah penduduk.

“Jawab setaaaan!” teriak lelaki kalap itu.

“Itu titipan majikan saya,” jawab Mulyadi. Ia berusaha tenang lagi walau tak mampu. Namun ia harus berusaha.

“Apa?” teriaknya lagi.

“Daging sapi mentah… yang harus dikirim… ke restoran siap saji,” jelas Mulyadi meskipun terpatah-patah.

Si lelaki di sampingnya diam sejenak, seperti berpikir, lalu melirik temannya yang dijawab dengan anggukan. Lalu disuruhnya temannya menghentikan memainkan golok.

“Berapa banyak daging sapi yang kau bawa?”

“Dua kwintal.”

“Wah…” mata si begal bersinar senang. Senyumnya tersungging walau bagi Mulyadi seperti seringai serigala. “Kalau begitu, kami minta daging, ya? Tak perlu banyak, kami tak akan bawa semuanya. Biar kau selamat sampai tujuan dan tak dimarahi majikan. Gimana?”

Tanpa berpikir panjang, kepala Mulyadi menganguk. Ia sejenak bernafas lega. Apalah arti beberapa kilo daging sapi dibanding nyawanya. Paling nanti urusannya dengan majikan. Mobil berhenti. Masih di kawasan sepi. Hanya pohon-pohon tinggi di sekitarnya. Lalu dua begal menyuruh Mulyadi turun untuk mengambilkan daging sapi. Namun Mulyadi menolak dengan halus. Dijelaskannya, akan lebih baik jika mereka berdua saja yang mengambil sendiri agar bisa leluasa memilih sesuai dengan yang diinginkan.

Baca juga: Misteri Rak 13 – Cerpen Agus Nurjaman (Pikiran Rakyat, 14 Juli 2019)

Dua begal turun dari mobil. Begitu pun Mulyadi. Dibukanya pintu belakang mobil. Lalu dua lelaki jahat itu masuk ke dalam. Memindahkan daging sapi dari kotak pendingin ke dalam tas plastik besar. Sementara Mulyadi menunggu di luar.

Beberapa menit kemudian, dengan sigap tangan Mulyadi mendorong pintu belakang, lalu cepat-cepat menguncinya. Kakinya bergegas berlari lalu naik ke mobil. Dilarikan mobil seperti kemasukan setan. Dua begal di belakang sudah tak terdengar lagi suaranya setelah sebelumnya berteriak-teriak sembari mengumpat tak karuan.

Mulyadi baru bisa bernafas lega setelah mobil berada tepat di depan kantor polisi.***

 

Bandung Barat, 1 Mei 2019