Cerpen Siti Maulid Dina (Analisa, 16 Juni 2019)

Anjing ilustrasi Renjaya Siahaan - Analisaw.jpg
Anjing ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa

Lelaki berperut buncit itu sudah sempurna memasuki gerbang kampus dengan mobilnya. Tidak seperti biasa, tiba-tiba saja tawa raja cahaya menjelma halimun. Dia mengernyit.

Mobilnya memasuki arena kampus, sepanjang jalan tak ada ditemuinya kerumunan manusia. Biasanya, banyak tawa dan cericau apa saja yang keluar dari mulut mereka. Keadaan benar-benar lengang. Lelaki itu terus menjalankan mobilnya, hingga berhenti di depan kantor. Dia membuka pintu dan turun dari kendaraan beroda empat itu. Masih juga sepi. Aneh, pikirnya.

“Tidak. Hari ini, bukan hari libur.” Bisiknya

Dia melangkahkan kaki menuju ruang kerja sembari menatap kanan-kiri, berharap mendapatkan manusia. Tidak ada, hanya ada dia. Ketika lelaki berkumis tebal itu mendekati ruang kerja, tiba-tiba keluar seekor anjing dari ruang persegi itu. Anjing berbulu putih itu mengaing di hadapannya. Sontak saja dia terkejut. Lelaki itu mundur beberapa langkah. Dia tidak ingin tubuhnya bersentuhan pada anjing itu. Anjing bertubuh kecil terus mendekatinya sembari menjulurkan lidah.

“Huuussss, pergi kau. Pergi sana.”

Langit semakin gelap. Rasanya ingin sekali mega itu menerkam dirinya. Mengunyahnya, hingga tak tersisa tulang-belulangnya. Dia berlari kecil mencari sebuah kayu. Mengusir anjing itu. Bukannya semakin jauh, anjing itu malah mengikutinya.

Lama dia mencari kayu, akhirnya lelaki berkulit hitam legam itu menemui kayu di bawah pohon. Dia mendekati anjing, memukulnya, hingga terbujur lemas. Terdengar suara merengek terlepas dari tubuh anjing berbulu putih.

“Mengapa kau bunuh hewan itu? Bukankah itu peliharaanmu?”

Lelaki itu mendongak, mencari sumber suara. Dia memutarkan tubuh, mencari tahu, suara siapa barusan. Tak ditemui seorang pun berada di halaman kantor. Dia melangkah menuju beberapa ruang, membuka pintu-pintu, namun sia-sia saja. Tidak ada siapa pun. Tangan kanannya menghempaskan kayu sambil mendengus.

“Bukan. Dia bukan peliharaanku. Aku tidak pernah memelihara seekor anjing.”

“Hah, dasar manusia pongah. Kau ingin membuang badan. Bukankah kau menjadikannya seekor anjing.”

Advertisements