Cerpen Sungging Raga (Koran Tempo, 15-16 Juni 2019)

Pedagang Senja ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempow.jpg
Pedagang Senja ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo 

Setelah pensiun dari pekerjaan sebagai penulis cerita, lelaki tua itu memutuskan untuk berjualan.

“Tidak baik kalau masa tua hanya dihabiskan untuk memberi makan ikan sambil menunggu pemilihan presiden,” begitu ia memotivasi dirinya sendiri. Maka dengan tenaganya yang belum melemah, ia mulai berdagang. Namun ia tidak menjual kue pukis, tahu krispi, atau martabak rasa telur dadar, melainkan menjual sesuatu yang sangat laris di kalangan penulis cerita itu sendiri: senja.

Lelaki itu barangkali memang ditakdirkan untuk senja. Meski rambut panjangnya telah banyak memutih, pada setiap helai rambutnya itu pernah ada cerita tentang senja. Selama karier kepenulisannya yang cemerlang itu, ia telah menjadi tokoh senja, bapak senja, kakek senja, sesepuh senja, juru kunci senja. Segala senja telah ditulisnya dengan begitu detail, begitu komprehensif, begitu akurat dan teliti, sehingga seakan-akan tak ada orang lain yang lebih mengetahui tentang senja daripada lelaki itu. Ia mungkin telah lebih tahu tentang senja daripada senja itu mengenal dirinya sendiri.

Namun setelah puluhan tahun berkarya, kini ia mencari kesibukan lain. Sebenarnya bukan karena tak ada lagi cerita yang bisa ditulis, ia masih bisa menulis cerita setiap hari, toh ceritanya pasti akan dimuat karena dirinya telah memiliki nama besar di dunia penceritaan.

“Tapi sudah waktunya pergantian generasi penulis. Presiden saja tidak bisa selamanya, kok kita seolah menganggap menulis itu bekerja untuk keabadian?” begitu jawabannya ketika sahabatnya, yang seorang penyair gagal, bertanya mengapa ia memutuskan untuk pensiun.

Kini ia tanggalkan semua kejayaan masa lalu. Kalau dahulu ia berjualan senja lewat kata-kata, kali ini ia menjualnya dalam bentuk foto-foto. Oh, tentu bukan maksudnya ia akan menggunting senja dan memasukkannya ke amplop lalu dikirim ke ujung dunia. Tidak, ia cuma perlu datang memotret senja di tempat-tempat yang romantis dan dramatis. Kemudian mencetaknya dan menjualnya kepada siapa pun yang masih peduli dengan keindahan proses terbenamnya matahari.

Kebetulan sekali lelaki itu memiliki sebuah kamera digital yang didapatkannya di sebuah pasar yang dikenal menadah barang curian. Ia diam-diam mengambil kamera tersebut ketika pedagangnya lengah. Kejadian itu konon sempat membuat gaduh, sehingga keesokan harinya di pasar itu pun dipajang tulisan, “Ini sudah barang curian, mohon jangan dicuri lagi, terima kasih.”