Cerpen Ramajani Sinaga (Analisa, 12 Juni 2019)

Teratai ilustrasi Istimewa.png
Teratai ilustrasi Istimewa

Pernahkah kau melihat bunga teratai yang mengambang di atas permukaan air yang tenang? Tentu saja ia memiliki akar-akar di dalam lumpur di bawah sana. Ia cantik dan tentu saja harum baunya. Aku rasa, ternyata, di dunia ini, aku pernah mengenal dan berjumpa dengan manusia bunga teratai. Setelah menyelesaikan cerita ini kau akan mengerti apa yang kumaksudkan.

Ia anak lelaki, berperawakan tinggi menjulang, kadang mungkin ia bisa saja menanduk pintu kelas kami. Saking tingginya ia. Ia, sebenarnya temanku, lelaki berhati tenang. Sungguh, tenang sekali. Dari bibirnya tersimpul sebuah senyuman yang selalu dipamerkan pada semua orang. Pada kami, teman-temannya, pada guru-guru, pada tukang becak, tukang sapu, dan kukira semua manusia ia beri senyuman.

Aku pernah berpikir, tidak sering memang. Enak sekali manusia seperti itu, ya. Kenapa hidupnya indah sekali, ya? Kenapa ia selalu bahagia? Kenapa ia banyak dicintai oleh orang-orang di sekitarnya, seperti aroma teratai yang dicintai oleh lingkungannya. Dan pasti Tuhan mencintainya, karena kadang temanku ini sering masuk musala kecil di sekolah kami. Ia sering sekali di sana. Kadang ia nampak berdoa serius dengan mata terpejam.

Ohhh. Itu dia, Gerry. Sedangkan aku, ya, aku, diriku adalah manusia pembuat masalah. Aku tidak pernah mengerjakan Pe-er, aku tidak datang tepat waktu, aku selalu mengganggu anak-anak perempuan, aku pernah membuat kacau suasana upacara bendera, aku tidak pernah mendengarkan nasihat guru, aku tidak pernah mengisi catatan. Diriku hanya kosong. Pernah suatu kali, ibuku harus datang ke sekolah karena dipanggil oleh Pak Amir, wali kelas kami, akibat dari kenakalanku.

“Anak ibu tidak punya sopan santun.” Kata Pak Amir. Aku menguping dan melebarkan gendang telingaku. “Beda sekali dengan temannya, Si Gerry. Gerry itu anak yang rajin, anak yang… anak yang… anak yang…”

Aku menghela napas. Aku tahu, ya aku sadar. Aku hitam dan Gerry putih dan ketika semua orang di dunia, termasuk guru terkadang membandingkan kami dan kadang selalu (terlalu sering) memasangkan kami dalam satu kelompok. Tujuan utamanya, ya, biar hidupku berubah. Agar hidupku seperti Gerry, si manusia sempurna itu.

***

Advertisements