Cerpen Dadang Ari Murtono (Rakyat Sultra, 11 Juni 2019)

Di Terminal Kertajaya ilustrasi Istimewaw
Di Terminal Kertajaya ilustrasi Istimewa

Gelap bersiap turun, semburat merah dari parak senja seperti bilah-bilah yang dihunjamkan ke bumi tua. Mesin bus yang hendak berangkat meraung. Baru beberapa saat lalu aku duduk di salah satu kursinya, berpura-pura tidur untuk menghindari kewajiban menyerahkan kursi tersebut kepada seorang ibu separuh baya yang berdiri di sampingku. Wajah ibu itu penuh minyak. Ia meletakkan tasnya di lantai sementara tangan kanannya kokoh berpegangan pada batang besi yang melintang di atas deretan kursi, dan tangan kirinya mencengkeram sandaran kursi yang kududuki. Aku tahu ia sesekali menatapku, seolah meminta belas kasihan. Aku capek, seperti kudengar ia berkata melalui tatapannya. Tapi persetan. Aku mendapatkan kursi ini juga dengan perjuangan. Aku mesti menunggu tiga jam di Terminal Ngawi sebelum menemukan bus yang menyisakan satu kursi kosong di deretan ketiga dari belakang di lajur dua kursi. Tak kurang dari delapan orang naik bersamaku dari Terminal Ngawi. Dan aku mesti mengeluarkan tenaga lebih untuk menyikut dan mendahului mereka dalam perang perebutan kursi.

Ya, di akhir pekan atau musim liburan, perang perebutan kursi bus adalah sesuatu yang tak terelakkan. Kesengitan perang ini akan bertambah-tambah bila kau naik bus di musim mudik lebaran. Ibu separuh baya itu naik dari Terminal Kediri. Aku mendengar ia mengucapkan Surabaya ketika kondektur menarik ongkos. Kondektur melirik sekilas ke arahku. Namun di tengah kepadatan bus, rasanya ia tak peduli dengan siapa yang lebih berhak duduk di kursi. Sesungguhnya, tidak ada peraturan tertulis tertempel di kaca bus yang mewajibkan aku untuk memberikan kursi ini kepada ibu tersebut. Ini hanya masalah moral—ia ibu-ibu separuh baya yang terlihat lemah dan aku pemuda duapuluh lima tahun yang sehat dan bugar. Dan moral itulah yang membebankan kewajiban menyerahkan kursi ini. Namun aku bukanlah orang yang terlalu baik. Aku malah memutuskan untuk pura-pura tidur demi menipu moral dalam hatiku yang terus saja menggedor-gedor. Untuk menebus rasa bersalah, begitu bus mendekati Terminal Kertajaya, aku menepuk tangan si ibu dan mempersilakannya duduk sementara aku bangkit dan berjalan menembus kepadatan penumpang mendekati pintu keluar di sisi depan. Ibu itu mengucapkan terima kasih. Tampak kelegaan di wajahnya. Rasa bersalahku sedikit berkurang menyaksikan itu.

Wajah si ibu masih membayang ketika aku membanting pantat teposku di kursi ruang tunggu terminal yang keras. Terminal tidak begitu ramai, bahkan cenderung lengang. Ini memang terminal kecil di kota kecil. Mojokerto. Sebuah kota yang seakan kalis dari hiruk pikuk dunia. Dari bus yang aku tumpangi, hanya aku satu-satunya penumpang yang turun di sini. Aku menarik napas besar, melonggarkan rongga-rongga dalam tubuhku setelah berjam-jam dihajar udara bus yang pengap. Aku baru merogoh kantong celana untuk mengeluarkan telepon genggam ketika terdengar suara berat di sampingku.

Advertisements