Cerpen Gandi Sugandi (Suara Merdeka, 09 Juni 2019)

Sendiri pada Hari Fitri ilustrasi Suara Merdekaw
Sendiri pada Hari Fitri ilustrasi Suara Merdeka

Jalan raya penghubung antarkabupaten membujur timur-barat. Kendaraan tak henti berlalu-lalang, derunya bersahutan dengan suara takbir. Dia duduk sendiri, menerawang, teringat kampung di seberang pulau. Lebaran ini dia tak bisa pulang, tak cukup uang untuk ongkos pergi dan pulang naik bus antarprovinsi. Kecuali tadi siang, belum ada lagi yang mampir untuk meminta jasanya menambal ban di bangunan berdinding gedek, beratap asbes, berukuran tiga meter kali tiga meter, yang diimpit dua batang pohon mahoni besar.

Di sinilah dia tinggal dan tidur, berbaur dengan peralatan menambal, ban dalam baru, juga bekas, bahkan ban luar bekas. Tempat ini buka 1 x 24 jam. Tadi siang itu, satu bus ban depan kanannya bocor. Padahal dia sedang terlelap, tertidur karena kelelahan. Meskipun gembira mendapat order yang berarti mendapatkan upah rupiah, saat mengantuk dia mesti berhati-hati membuka baut roda. Jangan sampai slag. Bisa masalah.

Dia terus saja duduk, lalu teringat kejadian minggu lalu. Seorang pengendara menuntun motor ke arahnya. Ban belakangnya lembek. Pelek, jari-jari roda belakang dan juga depan kotor. Blok mesin bagian bawah hitam, bertimbun oli bercampur gumpalan debu. Spion hanya satu, sebelah kanan. Joknya pun robek-robek. Mengkhawatirkan. Mengingatkannya pada motor sang ayah di kampung.

Saat motor itu sudah di depannya, dia gegas menghampiri. “Kenapa Kang?”

Mata pemilik motor itu sayu menatap. Namun tak lekas menjawab. Dia mengulangi dengan pertanyaan sama.

Pemilik motor dengan wajah agak memelas, bersuara lemah, akhirnya bicara. “Bocor, tapi…”

Ya, meski baru melakoni pekerjaan itu dua tahun, dia bisa menduga, pasti pemilik motor itu tak punya uang. “Mungkin ada yang bisa saya bantu? Tidak usah ragu. Bisa bayar belakangan.”

Malu-malu berkata pula pemilik motor. “Iya.”

Dengan cepat dia mengulangi berkata tak usah memaksakan bila tak ada uang.

Namun kata pemilik motor, “Aku besok melewati kembali jalan ini. Sekalian melunasi.”

Advertisements