Cerpen Muhammad Muis (Serambi Indonesia, 09 Juni 2019)

Sang Politikus ilustrasi Istimewaw.jpg
Sang Politikus ilustrasi Istimewa

WAJAHNYA layu seperti orang baru saja ditinggal mati istri tercinta. Matanya tampak lelah, cekung, dan rongga matanya kelihatan dalam. Ada gurat hitam di antara rongga mata itu. Tampangnya kusut masai. Kerutan-kerutan kecil mulai menghiasi dahinya. Kesan letih tergambar di wajah itu. Agaknya tekanan hidup menghimpitnya bagai palu godam yang beratnya berton-ton. Aku dibuatnya terperanjat, dan hampir tidak percaya dengan apa yang kulihat. Ada apa gerangan?

Sore ini aku bertandang ke rumahnya. Lama sekali aku tidak berjumpa dengan sahabat karibku, yang juga masih sepupuku. Puluhan tahun sudah aku merantau. Aku jarang sekali mudik sejak berangkat ke Jawa setamat SMA. Baru kemarin aku tiba dari Jakarta. Ada rasa rindu yang mendalam pada keluarga besar dan teman-teman. Sejak kecil hingga remaja, bahkan hingga aku akan meninggalkan kampungku, hampir setiap hari kami bermain bersama. Kami sekampung dan bersekolah pada sekolah yang sama pula. Jarak belasan kilometer dari rumah ke SMA kami tempuh bersepeda. Kami bermandikan keringat setiba di sekolah, tetapi nyaman dan terasa sehat. Kemudian kami berpisah. Aku berkuliah ke Bandung dan ia berangkat ke Yogyakarta.

Ahmad, demikian namanya, menyambutku di pintu rumahnya. Ia kelihatan sangat gembira melihat kehadiranku. Setelah menjawab salamku dan memelukku dalam dekap persahabatan dan persaudaraan yang hangat, ia mempersilakanku masuk.

“Kapan kautiba?” tanyanya.

“Kemarin,” jawabku.

“Apa kabar? Lama kita tak bertemu.”

“Baik. Kau?”

“Kabar baik juga. Malas sekali kau mudik, ya.”

Senyum lebarku menyambut kata-katanya.

“Anakku sedang sakit parah sekarang.” Ia berkata dengan agak lemah. Nada getir terpendam dalam lirih ucapannya. Sejujurnya, aku sudah mendengar kabar itu dari keluargaku. Itu pun sesungguhnya juga menjadi sebab mengapa aku mau pulang kali ini.

“Sudah berapa lama?” tanyaku.

“Lebih dari satu bulan….”