Sebelumnya, perempuan itu memang hidup di tengah-tengah kampung. Tinggal bersama sang suami dan tidak dikaruniai anak meski telah menikah sejak belasan tahun. Bekerja sebagai petani seperti kebanyakan penduduk setempat. Namun mereka dikenal sebagai keluarga yang tertutup, meski terkadang juga berbagi makanan dengan orang-orang sekitar.

Waktu itu, banyak penduduk setempat meninggal secara tidak wajar. Mula-mula mereka ditimpa penyakit aneh. Seperti perut membuncit yang disertai rasa sakit seperti diiris-iris silet, batuk yang tak kunjung mereda disusul berat tubuh yang menyusut drastis, juga tubuh yang tiba-tiba menderita lumpuh padahal sebelumnya masih segar bugar. Semua penyakit itu tak mampu ditangani oleh medis. Karena itulah mereka yang menderita lebih memilih pasrah pada nasib sampai akhirnya ajal menjemput.

Dari hari ke hari, korban-korban berjatuhan. Orang-orang pun jadi resah. Mereka meyakini bahwa ada warga yang telah bersekutu dengan iblis. Membuat orang-orang tiba-tiba jatuh sakit, lalu mati mengenaskan. Tapi mereka tidak tahu pasti siapa yang telah tega melakukan perbuatan terkutuk itu. Mereka hanya bisa melempar curiga pada setiap orang yang terlihat aneh dan berbeda dari yang lain.

Adalah suami perempuan itu yang akhirnya dijatuhi tuduhan keji itu. Pada suatu siang yang panas, lelaki itu diseret warga ke alun-alun setelah selama tiga malam warga kampung menggelar rapat tertutup di rumah Pak Kadus. Dengan tangan terikat, lelaki itu pun jadi bulan-bulanan kemarahan warga: dipukul, ditendang, dilempari batu, sampai lelaki itu sekarat. Sementara itu, istrinya yang dalam cengkraman beberapa warga, berusaha menolong. Ia berontak sambil berteriak-teriak agar suaminya dilepaskan. Tapi mereka tak peduli. Mereka terus melancarkan kemarahan hingga akhirnya nyawa suaminya benar-benar tidak bisa diselamatkan.

Dalam suasana yang mencekam begitu, mendung tiba-tiba muncul bergulung-gulung, berarak dari langit timur. Tak lama kemudian hujan jatuh begitu deras. Perempuan itu masih menangis tersedu di sisi suaminya yang sudah jadi mayat. Sementara para warga telah bubar dan hanya menyaksikannya dari jauh. Sebagian berteduh di bawah pohon rindang, dan sebagian yang lain membiarkan tubuhnya basah diguyur hujan.

Lima menit berlalu dan perempuan itu mulai mengitari mayat suaminya. Ia sepertinya ingin mengangkat tubuh tak bernyawa itu untuk dibawa pulang. Tapi sayangnya, tenaganya terlalu lemah untuk mengatasi satu tubuh besar sendirian. Maka, dalam kebingungan begitu, ia pun menengadah ke langit, bibirnya bergetar seperti memadahkan doa-doa ganjil. Dan apa yang terjadi kemudian adalah sesuatu yang tak masuk akal.

Advertisements