Cerpen Irwan Kelana (Republika, 09 Juni 2019)

Hati Sang Pemilik Kucing ilustrasi Daan Yahya - Republikaw.jpg
Hati Sang Pemilik Kucing ilustrasi Da’an Yahya/Republika

Ramadhan tahun ini, Fadil hanya berharap satu hal. Semoga, ia mendapatkan jodoh. Usianya sudah kepala tiga. Dan ia sudah sangat ingin memberikan cucu untuk ibunya yang tinggal di kampung bersama adik satu-satunya.

Namun, jodoh, rezeki, dan maut Allah yang punya. Beberapa kali ia nyaris mendapatkan istri, tapi selalu saja ada halangan yang membuat mimpinya pupus.

Sejak SMA hingga tamat kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan IPB, Fadil tidak mau pacaran. Baginya, selain tidak sesuai dengan keyakinan agamanya, pacaran juga hanya buang-buang waktu dan memberi harapan palsu alias PHP.

Dua tahun setelah lulus kuliah, ia menemui Aisah, teman mainnya waktu kecil di sebuah desa di Cianjur, Jawa Barat.

Ia bermaksud melamar Aisah. Tapi, ia terlambat.

“Mohon maaf, Kang Fadil. Akang terlambat. Minggu lalu, Kang Lukman, teman Akang yang kini jadi guru madrasah dan ustaz di kampung kita ini melamar Aisah. Ibu dan Bapak menerima lamaran tersebut. Sebetulnya, sejak Akang kuliah di IPB dan lulus sebagai dokter hewan, Aisah menunggu Akang. Tapi, Akang tidak pernah datang. Mungkin, kita memang tidak berjodoh. Tapi, Aisah yakin, Allah pasti sudah menyiapkan wanita yang lebih segalanya dari Aisah untuk menjadi istri Dokter Hewan Fadil,” kata Aisah yang kini menjadi seorang guru di sebuah SD Negeri di Cianjur.

Tahun berikutnya, Fadil bertemu dengan seorang ukhti yang sangat lembut dan selalu menundukkan pandangan saat bertemu dengannya. Namanya Qurrata A’yun. Keduanya bertemu di sebuah acara tabligh akbar yang digelar di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta.

Fadil langsung mengutarakan niatnya untuk mengkhitbah gadis asal Banjarmasin yang saat ini tengah mengambil S-2 di Universitas Al-Azhar Jakarta.

Qurrata A’yun setuju. Tapi, dia akan minta izin terlebih dahulu kepada ayahnya. Saat itu, baru saja ujian semester. Minggu depan, tidak ada kegiatan kampus.

Qurrata A’yun pulang ke Banjarmasin. Namun, ia tidak pernah lagi kembali ke Jakarta. Pesawat yang ditumpanginya jatuh saat hendak mendarat. Pesawat terbakar. Lebih separuh penumpangnya tewas, termasuk Qurrata A’yun.

Advertisements