Cerpen Ilyas Ibrahim Husain (Fajar, 09 Juni 2019)

Balada Si Pelaut ilustrasi Fajarw.jpg
Balada Si Pelaut ilustrasi Fajar

Sudah menjadi risiko bagi seorang istri yang suaminya berprofesi sebagai pelaut, ditinggal berbulan-bulan demi menjaring sesuap nasi di lautan sana.

***

Setiap musim mudik, anakku Vharisa Rheswa akan selalu merengek untuk bertemu ayahnya, maklum pertemuan pertama Rheswa dengan ayahnya berlangsung cukup singkat, kala ayahnya membisikkan seruan azan dan iqamah pada kedua telinga Rheswa.

“Secepat itukah kau harus pergi Mas Agus?” tanyaku padanya sesaat setelah kalimat tauhid yang lirih itu berakhir. Mas Agus, suamiku, dalam balutan seragam dinasnya mendekap hangat Rheswa. Lelaki itu hanya tersenyum dengan tatapan yang menyiratkan makna perpisahan, sebagai istri saya hanya diam membisu.

“Berjanjilah padaku Mas Agus tuk segera pulang.” Mas Agus hanya tersenyum, kemudian mengecup keningku lalu memberikan Rheswa kepadaku, ia pun beranjak kembali menuju pelabuhan.

“Bu! Ayah kenapa belum pulang?” Rheswa kecil menarik-narik lenganku, ia mendongak, menatap wajahku. Saya hanya tersenyum, tahun kelima kelahiranmu, Mas Agus belum juga pulang, hanya kiriman surat dan sesekali video call WA sebagai pengobat rindu.

“Nak, Ayah sedang mencari rezeki untuk kita,” hanya itu yang bisa kuberikan kepada Rheswa sebagai pengobat rindu.

***

Sudah sejak lama menjadi seorang nahkoda adalah impianku, sejak kecil saya selalu merasa takjub kala melihat kapal laut yang bersandar di dermaga, dan di haluan kapal kadang kulihat nahkoda berbalut busana putih tampak gagah. “Ayah, lihat orang itu, gagah yah?” tanyaku pada ayah kala masa kecil dulu.

Baca juga: Dalam Tubuh Mantra Senja – Cerpen Lula Arimbi (Fajar, 14 Juli 2019)

Ayahku hanya nelayan biasa, yang menjaring ikan di laut, karena profesinya lah saya kecil dan besar di laut. Kadang libur semester ayah selalu mengajakku untuk berlayar ke lautan lepas, mencari ikan untuk ditangkap dan dijual ke pelelangan ikan.

Ketika kapal ayah bersandar tidak jauh dari dermaga, dari sanalah saya biasa melihat kapal-kapal berukuran besar bersandar dan menurunkan anak-anak manusia yang entah dari mana mereka berasal.

“Nak yang kau lihat dari Haluan kapal itu namanya nahkoda, sedangkan orang-orang yang berbondongbondong ke luar dari kapal itu adalah masyarakat yang baru pulang dari perantauannya. Nak dengar ayah, pekerjaan sebagai nahkoda itu adalah pekerjaan mulia, karena ia dengan rela tidak berkumpul dengan keluarganya sendiri, demi menghantarkan orang-orang yang dari perantauan itu untuk mengunjungi sanak familinya di kampung.”

Di balik kemudi saya hanya tersenyum tipis mengingat kejadian masa lalu itu.  Beberapa saat kemudian, seorang kelasi kapal menghampiriku. Ia melaporkan bahwa kapal yang kunahkodai sudah dapat bersandar di pelabuhan.

***

Saya masih ingat, kala itu bersua di terminal keberangkatan. Mas Agus nampak gagah dengan seragamnya. Saat itu saya hendak ke Surabaya, merampungkan riset tentang Kretek di Tanah Jawa pada Masa Kolonial. Awalnya ingin naik pesawat, tapi urung kulakukan, bukan karena tiket pesawat mahal, malah menurutku tiket pesawat kala itu terbilang mudah dijangkau. Tapi karena rasa penasaran bagaimana sensasinya naik kapal laut?! Maka kubulatkan tekad ke Surabaya dengan jalan mengarungi samudera. Dari situlah saya mulai mengenal Mas Agus Salim, lelaki yang menjadi suamiku kini.

***

Di laut pula saya menemukan jodohku, kalau tidak salah ingat umurku baru 20 tahun dan masih menjadi Anak Buah Kapal. Masih jelas diingatanku, di terminal keberangkatan—sesaat setelah dimintai kapten kapal mengambil manifest penumpang dan melapor ke syahbandar pelabuhan—saya sejenak bersitatap dengan gadis itu, dara jelita berambut ikal bergelombang. Ia melemparkan senyum kepadaku dan kubalas pula dengan senyuman.

Baca juga: Resep Ajaib Dea – Cerpen Osella (Fajar, 21 Juli 2019)

Maha Besar Allah Swt yang telah mengatur jodohku, ketika di atas geladak kapal, saya kembali bertemu gadis itu, dari kejauhan kulihat dara jelita itu sedang diganggu dua lelaki, sontak saja saya selaku ABK sesegera mungkin menolong gadis itu dan memperingatkan dua lelaki itu, agar menjaga sikap sebagai seorang penumpang dan pengguna jasa kapal laut. Dari situlah kami mulai saling mengenal, bertukar nomor ponsel dan alamat rumah, yang terakhir tentunya untuk keperluan surat-menyurat. Dan seiring berjalannya waktu, kami menyatukan dua cinta ke dalam ikatan suci pernikahan.

***

Saya sudah tahu akan begini jadinya, sebelum semakin dalam perasaan ini, Mas Agus sempat menanyakan kesanggupanku untuk menjadi istri dari seorang pelaut?

“Soraya, Soraya Purnama Sari. Gadisku, kekasihku. Kamu mau menerimaku sebagai suamimu? Seorang suami yang pelaut ini, yang tentunya jarang menemani tidurmu?!”

Saya hanya mengangguk, dan menerima semua konsekuensi, bahwa Mas Agus akan lebih banyak menghabiskan waktunya di laut daripada di darat, dan daripada di tepian ranjang tempat tidur kami.

“Saya bersedia Mas Agus.” Jawabku mantap, beberapa bulan kemudian Mas Agus datang bersama keluarganya dan melamarku. Pesta pernikahan berlangsung cukup meriah. Baru dua minggu kami menikmati masa bulan madu, Mas Agus kemudian kembali ke laut, memenuhi tugasnya.

***

Benar kata guru agamaku kala itu, bahwa seseorang yang telah menikah, maka Allah Swt melapangkan atas rezeki-nya. Dan itu terbukti atas apa yang kualami, karierku melesat! Awalnya hanya ABK, lalu jurumudi, kemudian menjadi seorang bosun, lalu didapuk menjadi markonis, mualim hingga seiring berjalannya waktu kini didapuk sebagai nahkoda di usia terbilang muda.

Baca juga: Suara Tuhan – Cerpen Yus R. Ismail (Fajar, 08 September 2019)

Angin di bulan Ramadan berhembus dengan kencang, di horison sana perlahan mentari tenggelam, tinggal menunggu beberapa hari lagi bulan sabit Syawal akan muncul. Sejenak kuhela napas panjang, mudik tahun ini penumpang kapal luar biasa banyaknya, mungkin imbas dari mahalnya harga tiket pesawat terbang. Yah mungkin inilah dikatakan hikmah dari setiap kejadian.

Jemariku kemudian cekatan menekan nama istriku di layar gawai, melalui jaringan wifi dari sambungan satelit kuputuskan mengobati rindu ini.

“Assalamualaikum, maafkan saya Soraya, tahun ini tidak bisa lagi berlebaran bersamamu,” sahutku lewat Video Call.

“Tidak apa-apa Mas,” sahut Soraya, di layar gawai itu kemudian kulihat malaikat kecilku, melambaikan tangan sembari memanggil-manggil nama ayahnya.

Saya hanya menghela napas, sambungan kemudian terputus. Kembali pandanganku melihat horison, matahari perlahan mulai terbenam. Di musim mudik kali ini saya gagal bersua dengan keluarga. Rasa rindu ketemu Rheswa semakin membuncah, hanya foto kecil di sudut gawai sebagai pengobat rasa rindu. Itulah risiko yang harus kujalani. Tetapi bagaimanapun saya masih senang, karena mampu mempertemukan mereka—para penumpang kapal dari perantauan ini—untuk bertemu dengan sanak famili, menuntaskan rindu yang telah lama terpendam.

 

Sungguminasa 31 Mei – 1 Juni 2019

Ilyas Ibarhim Husain, nama pena dari Adil Akbar. Alumni Pendidikan Sejarah UNM yang sementara melanjutkan studi S2 nya di PPS-UNM.