Cerpen Zaid Ibadurrahman (Serambi Indonesia, 02 Juni 2019)

Pohon Kurma ilustrasi Serambi Indonesiaw.jpg
Pohon Kurma ilustrasi Serambi Indonesia

POHON kurma itu berdiri kokoh tak miring satu derajat pun, nol koma sekian pun tidak. Batangnya selebar dua pelukan orang dewasa, tinggi menjulang hampir menyamai rumah tiga tingkat. Daun-daunnya lebar mencuat dari batang, mendongak ke atas sebelum kemudian turun melandai sampai setengah tinggi pohon tersebut. Pohon itu tidak berbuah, karena memang belum masanya.

Kurang lebih enam tahun yang lalu, Haji Usman pulang dari tanah suci setelah lama merantau di sana. Bayangkan, berapa kekayaan yang berhasil diraup dari perantauan di negeri sultan. Lama pula. Orang kampung antusias menyambutnya, ia telah dianggap orang besar yang sebelumnya bukanlah siapa-siapa. Karena ia tak punya lagi keluarga, orang-orang berebut mengisi kekosongan itu. Yang tak kenal tiba-tiba jadi sok kenal, yang tak dekat paling duluan merapat, ada pula yang berani mengaku dulu teman sebantal, ah memang begitu tabiat manusia. Tidak usah diperpanjang lagi karena memang ini sudah menjadi rahasia umum. Bukan hal ini yang hendak dibahas dari kepulangan Haji Usman.

Tak genap satu tahun, bahkan setengahnya juga belum, Haji Usman kembali ke Tanah Suci. Orang-orang kampung bersedih, bahasa halusnya: tak ada lagi orang yang bisa memajukan kampung.  Kasarnya: tak ada lagi orang yang bisa dijilat! Ramai-ramai mereka mengantar kepergiannya, berharap akan ada hal terakhir yang bisa didapatkan darinya. Namun, hal terakhir itu pun jauh dari angan-angan. Haji Usman menghadiahkan mereka kantong plastik kecil berisi benih tanaman. Pria itu berwasiat kepada beberapa sahabat agar menanamnya di kampung, hanya itu, tak lebih. Tentu saja sekantong benih dan sederet wasiat bukanlah hal yang pantas sebagai hadiah perpisahan, apalagi untuk orang sekelas haji. Orang-orang kecewa.

Janji tetaplah janji. Sekalipun banyak yang kecewa, beberapa orang ikut memenuhi permintaan Haji Usman. Bibit-bibit itu ditanam di salah satu sudut kampung yang tak mencolok, mungkin agar orang-orang tak tahu lalu melupakannya. Bibit itu kemudian tidak dirawat dengan baik, disiram sekenanya saja, itu pun bila ada yang mengingat. Alasan mereka sederhana, wasiat Haji Usman hanya menanam, bukan membesarkannya. Terlantarlah gundukan-gundukan tanah kecil itu.

Jauh dari sikap tak peduli orang-orang, salah satu benih justru tumbuh begitu saja, ia menyeruak di antara timbunan tanah kualitas buruk, mencuat dengan angkuh, seolah memberitahu orang-orang bahwa bibit itu akan tetap tumbuh sekalipun mereka tak acuh. Mendapati apa yang terjadi di luar dugaan, masyarakat mulai memberi perhatian, tanah itu mulai dirawat dengan baik meski belum tahu makhluk macam apa yang tumbuh nanti disana.