Cerpen Artie Ahmad (Kedaulatan Rakyat, 02 Juni 2019)

Persiapan bagi yang Pulang ilustrasii Joko Santoso - Kedaulatan Rakyatw.jpg
Persiapan bagi yang Pulang ilustrasii Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat 

SUARA televisi terdengar. Kadang kala bergemerosak lantaran jeleknya saluran televisi. Antena berbentuk empat jari di atas genting sudah bengkok, namun tak kunjung ada yang bisa membenahi. Tetapi seolah tak terganggu dengan itu, Mak Rahimah tetap hikmat duduk di depan televisi. Berita di televisi sedang menyiarkan lalu lintas untuk persiapan mudik Lebaran. Bibirnya turut tersenyum ketika melihat jalanan mulai padat dilalui lalu-lalang kendaraan. Jalan tol baru yang menuju kotanya sudah bersiap menerima mobil-mobil pemudik dari Jakarta dan kota lainnya.

Mak Rahimah tersenyum, tentu adanya jalan tol baru di kotanya akan memudahkan pula anaknya nanti pulang ke rumah saat mudik Lebaran. Dananto, anak sulungnya sudah menetap di Jakarta sejak lima belas tahun yang lalu, sedangkan anak keduanya yang bernama Puti memilih turut suaminya pindah ke Surabaya sejak enam tahun yang lalu. Kini, selepas ada jalan tol baru yang membuat perjalanan lebih cepat, tentu keduanya tak berkeberatan untuk pulang menemui dirinya.

Tahun lalu, Puti urung pulang ke rumah guna mudik Lebaran. Ia dan suaminya menunda pulang lantaran padatnya kendaraan. Rental mobil di daerahnya juga penuh. Tiket bus telah habis terjual sejak jauh-jauh hari. Perjalanan dari Surabaya ke Jawa Tengah tentu akan sangat melelahkan jika mengendarai kendaraan roda dua. Sudah dua kali Lebaran Puti tak pulang, setelah Lebaran sebelumnya bertepatan dengan Puti hamil besar anak pertama.

“Tak bisa pulang dulu tahun ini, Mak. Mas Haris tak kebagian mobil rentalan. Tiket bus sudah habis. Rania masih terlalu kecil jika diajak pulang naik motor,” ujar Puti dari seberang telepon.

“Baiklah, tak mengapa kau tak bisa pulang Lebaran kali ini. Tapi tahun depan, emak ingin kita Lebaran bersama ya.” Jawab Mak Rahimah tulus meski kecewa menyentak-nyentak dadanya.

Tak hanya Puti yang tak bisa mudik Lebaran, Dananto pun sama. Anak sulungnya itu tak bisa pulang, bahkan sudah sejak beberapa tahun lalu. Mak Rahimah sampai lupa, berapa kali ia tak Lebaran bersama putranya itu. Dananto selalu ada alasan. Entahlah mobilnya yang tua itu rusak, kedua anaknya menolak diajak pulang, atau istrinya bersikeras untuk mudik ke Palembang. Mak Rahimah tak pernah marah ketika Dananto hanya meminta maaf sebatas lewat sambungan telepon, namun ia kerap menyesali ketika anaknya itu lagi-lagi selalu batal mudik dan urung bersua dengannya.

Advertisements