Cerpen Rian Ibayana (Denpost, 02 Juni 2019)

Martil Pamungkas ilustrasi Mustapa - Denpostw.jpg
Martil Pamungkas ilustrasi Mustapa/Denpost 

Martil Terakhir

MATAMU tampak memancarkan rona amarah tiap kali mengusap benda itu. Sebuah martil tua yang kau pajang di ruang tengah rumahmu. Martil yang berwajah dingin, legam seperti menyimpan dendam. Napasmu terlihat tidak beraturan lebih cepat dari biasanya ketika menurunkan benda itu ke atas meja, kau amati dengan seksama mulai dari kayu pegangan yang terbuat dari kayu rasamala  hingga bagian kepala martil tersebut. Kau memandangi benda itu dengan khusyuk, seperti menyelami masa lalu.

Setiap malam ke empat belas, ketika bulan bulat sempurna, kau senantiasa membersihkan martil itu, bahkan sifatnya menjadi wajib. Kau rajin melingkari tanggaltanggal pada kalender yang bertepatan dengan bulan purnama dan kau haramkan orang-orang untuk bertamu jika malam sakral itu telah tiba. Sebenarnya tak ada yang menarik dengan martil yang kau manjakan itu, bentuknya sama dengan martil biasa dipakai oleh para pemecah batu. Namun caramu merawat benda itu membuatku tidak paham, kau seperti merawat amarah dan dendam yang ada pada benda itu.

“Ini martil terakhir di keluarga kita” ungkapmu di sebuah malam purnama. Umurku baru tujuh tahun kala itu, belum mengerti dengan apa yang kamu ucapkan. Namun aku bisa melihat di sudut matammu tampak basah, seperti habis menangis. Kau menyuruhku memegang martil yang beratnya kirakira 10 kilogram itu. “Peganglah, namun sampai akhir hidupmu jangan sekali-kali memegangnya lagi,” suaramu lirih. Tanganmu yang sedikit kasar, mengarahkan tanganku ke arah benda dingin itu. “Martil ini warisan dari kakekmu, warisan paling berharga milik kita, setelah ini kamu jangan sekali-kali menyentuhnya lagi, berjanjilah, kita sudah hidup layak saat ini, sudah saatnya mengubur kerasnya masa lalu.”

Selepas malam purnama itu, aku tidak pernah melihat airmatamu lagi. Matamu lebih sering memancarkan cahaya merah, seperti api. Sejak itu aku tidak berani mendekatimu ketika kamu melakukan ritual pembersihan martil, kau telah berubah.

Potret Usang

Senja merah tembaga, kamu duduk di teras rumah, di hadapanmu ada sebuah koper hitam, sedikit berdebu. Kau menyuruhku duduk lebih dekat, kemudian tanganmu mengelus rambutku dengan manja, hal yang jarang kamu lakukan. Sebuah album foto berwarna merah hati kau keluarkan dari dalam koper tua itu kemudian menyuruhku membuka album itu lembar per lembar.

Advertisements