Cerpen Kusfitria Marstyasih (Suara Merdeka, 02 Juni 2019)

Lodeh Kembang Turi Bulik ilustrasi Suara Merdekaw.jpg
Lodeh Kembang Turi Bulik ilustrasi Suara Merdeka 

Turi-turi putih/Turi-turi putih/ditandur neng kebon agung/turi-turi putih/ditandur ning kebon agung/Cemleret tiba nyemplung/Mbok kiro kembange apa/Mbok kiro, mbok kiro/Mbok kiro kembange apa….

Dulu, sebelum ia terbaring bisu di pemakaman atas bukit itu syair yang digubah oleh Sunan Giri sebagai pengingat kebajikan dan kematian tersebut seringkali kudengar terselip lirih dari bibir tipis yang dulu mungkin pernah tercecap di lidah banyak lelaki. Setahuku, perempuan memang sangat menyukai bunga, bahkan cenderung memujanya. Tak terkecuali ia.

Alih alih mengagumi mawar, melati, bougenville ataupun anggrek, ia malah lebih menggandrungi kembang turi, terutama turi putih. Tentu. Tentu saja ada penyebabnya, dan aku ingat di tengah diamnya yang berkepanjangan sesekali ia mau berkisah dengan suara lirih yang dalam.

“Aku bisa makan jika turi ngembang, kupetik dan kujual ke pasar. Jika tak habis kubawa pulang. Digulai, dikrawu, dipecel, dikripik, enak. Saat itu hidup terlalu berat.”

Sayup terngiang kembali hembus nafasnya yang berat kala ia harus mengenang masa kecilnya yang suram di sebuah kampung terpencil dikelilingi pohon kelapa.  Jalan menuju ke kampungnya masih berupa tanah urugan sawah, di samping kanan dan kiri jalan berbongkah terhampar perkebunan tebu. Yaah, kebun tebu yang belum pernah dia lihat ujungnya.

Dia hanya tahu tiap pagi dulu saat ia berangkat ke sekolah yang hanya dienyamnya sampai kelas 4 SD_matahari tiba tiba akan muncul dari serbuk sari kembang tebu di sisi sebelah timur. Dan dia akan paham betul matahari akan takluk turun dan tertelan batang tebu yang amat rapat di sisi barat.

“Aku pernah digarap ramai-ramai oleh kuli pemetik tebu. Masih untung aku tak jadi mayat yang dibuang di tengah ladang tebu.” Enteng terdengar ucapan tersebut.

Aku ingat sering di rerimbunan ladang tebu yang luasnya berhektar hektar tersebut seringkali ditemukan mayat tanpa identitas, rupanya para kriminal itu beranggapan perbuatan mereka tak akan kepergok. Aah,, jalan menuju kampungnya memang sarang kejahatan. setiap kali orang kampung berlarian ke sana menonton tawuran warga ataupun pengeroyokan. Belum lagi jika ada maling yang gagal beroperasi mereka_para warga yang butuh pelepasan emosi_ akan beramai ramai menghajarnya bahkan membakar maupun membacok maling sudah bukan lagi hal tabu.