Aku kembali mendengar mereka bicara, dan tidak tahu apa saja yang mereka lakukan.

“Mayat no 11 sudah teridentifikasi?”

“Nggak tahu. Kayaknya belum, tuh.”

“Calon kadaver[2], nih.”

“Cowok apa cewek, sih?”

“Cowok.

“Hmmm… besar kali ya itunya…”

Mereka tertawa. Aku tidak tahu apa yang mereka maksudkan. Kemudian aku mendengar suara sepatu mereka yang semakin menjauh. Aku mendengar suara pintu ditutup. Lalu kembali sepi. Aku kedinginan. Aku ingin keluar dari sini. Aku ingin pulang. Aku ingin bertemu dengan bapak dan emakku. Aku ingin bertemu dengan teman-temanku.

Hampir setahun aku tidak bertemu dengan mereka. Terutama teman masa kecilku, Aan. Selain Beki dan Govar, aku salah seorang yang sering mengajaknya ke tempat-tempat hiburan jika musim tanggapan. Organ tunggal paporit kami tentu saja organ tunggal Langlang Buana dengan artis dangdut kenamaan Diva Fiesta.

Govar pernah bercerita tentang Safitri alias Diva. Ia juga menceritakan tentang Mang Kaslan, sopir kepercayaan Safitri. Sampai kemudian aku dengar Safitri menghilang. Aku tahu Mang Kaslan banyak menyimpan rahasia mengenai Safitri. Maka sebelum aku berangkat ke Jakarta, aku sempatkan mencari Mang Kaslan di Argolis. Aku sempat bertemu dengannya, tapi dia tidak banyak bercerita mengenai Safitri. Ia hanya ingin bercerita jika Safitri mengijinkannya. Akhirnya aku pamit untuk langsung berangkat ke Jakarta. Aku diantar Mang Kaslan sampai Patrol. Dia tersenyum kepadaku ketika bis Luragung berhenti tepat di depanku. Itu pertemuan pertama dan terakhirku dengan Mang Kaslan.

Pada kesempatan lebaran ini sebetulnya aku berniat ingin menceritakan pertemuanku dengan Mang Kaslan. Barangkali hal ini bisa mengobati rasa penasaran Aan mengenai Safitri. Tapi sekarang aku tidak bisa berbuat apa-apa di tempat yang gelap seperti ini, di dalam ruang sedingin ini, sesempit ini. Tapi aku ingin pulang. Aku ingin lebaran bersama mereka di kampung halaman. ***

 

Catatan:

[1] Operasi adalah istilah (mereka) untuk mencari sasaran rumah yang akan dicuri.

[2] Mayat yang digunakan untuk praktikum mahasiswa kedokteran.

 

Kedung Darma Romansha. Lahir di Indramayu dan kini mengelola komunitas Rumah Kami Yogyakarta. Kumpulan puisi terbarunya Masa Lalu Terjatuh ke Dalam Senyumanmu terbit tahun lalu. Novelnya Telembuk masuk lima besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2017.

Advertisements