Selain pencurian, musim begal juga mendadak viral menjelang lebaran. Aku kira persoalan begal menjelang lebaran itu milik setiap daerah. Namun menariknya di kampungku, para bandit ini janjian di pos ronda ajaib ini. Pos ronda yang menjaga malam.

Selain kumpulnya para begajul jahanam, pos ronda ini juga tempatnya judi kartu dan remaja mabuk kasmaran. Terutama malam selasa. Kamu pasti bingung kenapa tidak malam minggu? Karena malam selasa itu harinya pasar malam Selasaan di kampungku. Malam minggu tinggal sepi dan menyimpan kesepian. Kecuali setelah musim panen. Kamu akan menemukan hiburan setiap harinya. Aku sendiri biasa berburu organ tunggal bersama teman baikku, Yusup namanya, yang wajahnya tidak tampan seperti Nabi Yusup. Maka dia dipanggil Kriting. Kenapa Kriting? Karena itulah yang paling mewakili dari dirinya. Dan sialnya dia selalu gagal soal asmara.

Malam ini, di pos ronda ini, aku menunggunya bersama para begundal bajingan kampung.

“Aku pusing…kirik!”

Casta mengisap rokoknya dalam-dalam.

“Anakku minta baju lebaran,” lanjutnya kemudian.

“Mau operasi?[1]” usul Kartam.

“Di mana?”

“Tetangga desa saja.”

“Tetangga desa resikonya lebih besar.”

“Resiko itu ada di mana-mana. Memangnya kita mau mancing?!”

“Kalau tahu pekerjaan ini beresiko kenapa kita ngelakuin?”

“Karena kita tidak punya pekerjaan goblok!”

“Kirik!”

Mereka diam. Seperti menunggu sesuatu. Entah apa. Aku pura-pura melamun, agar tak dianggap menguping pembicaraan mereka. Aku sadar kalau keberadaanku mengganggu mereka. Mereka berbicara dengan setengah berbisik. Sesekali salah satu di antara mereka menatapku, dan aku pura-pura tak melihatnya.

Sebetulnya keberadaanku di Pos Ronda ini tak lain hanya untuk menunggu Kriting pulang dari Jakarta—lebih tepatnya Bekasi. Tapi orang kampungku lebih suka mengatakan dari Jakarta ketimbang Bekasi. Sama halnya kebanyakan orang lebih bangga mengatakan dari Cirebon ketimbang Indramayu, kampungnya sendiri. Mungkin itulah kenapa orang di sini sering berhalusinasi.

Advertisements