“Peduli setan!” umpatnya lagi. Kali ini, ia menyasar ke lemari koleksi gaun-gaun kesayangannya.

Lemari itu dibukanya gegas, dan di dalamnya terpampang aneka gaun dengan jenis kain, model dan warna yang beraneka. Di masa yang lewat, Ibu pernah begitu bangga dengan koleksi gaun-gaun itu. Di masa muda Ibu pernah hampir memenangkan kontes ratu kecantikan. Segenap kecantikan dirinya menempel di gaun-gaun itu. Dengan mata berbinar, Ibu menyibak gaun-gaun yang berjajar itu seperti menyapanya kembali setelah sekian lama tak sua. Setiap menatap satu gaun, ia seperti menatap satu episode hidupnya yang indah-indah di masa lalu itu luruh, hilang entah ke mana.

“Gaun-gaun ini, semuanya masih begitu gemerlap,” bisiknya lagi, sebelum mencoba mengenakannya kembali. Namun sungguh menyesakkan, setelah mencobanya satu per satu, gaun-gaun itu tak mau lagi menempel di tubuh ibu. Tubuh Ibu telah membengkak. Membangun gelambir di perut, di bawah lengan, di paha, dan di mana-mana. Kini, tubuh Ibu nyaris seperti buah pir. Tak seramping dulu. Namun, Ibu tak pernah mengakuinya. Kata Ibu, gaun-gaun itulah yang telah bersekongkol dengan yang lainnya untuk menyeteru Ibu. Gaun-gaun itu sengaja mengecilkan diri agar Ibu tak bisa mengenakannya lagi.

“Gaun-gaun ini tak ada bedanya dengan televisi dan yang lainnya, sama-sama benda keparat yang tak bisa menghargai masa lalu, tak bisa menyimpan kenangan, tak tahu diuntung,” umpat Ibu, sebelum mengambil gunting dan memperlakukan gaun-gaun itu sebagaimana dompet yang telah berakhir di keranjang sampah.

“Tapi aku masih punya koleksi sepatu,” sambungnya, menghibur diri. Namun, begitu Ibu sampai di muka rak sepatu, tatapan wajahnya kembali berubah. Barangkali, sepatu-sepatu itu menjelma rongsokan yang berjajar di mata Ibu.

“Aku lupa, aku tak punya koleksi sepatu,” ucapnya pasrah. “Ini hanya kumpulan sampah, kumpulan sampah!”

Ibu menghela napas berat, dan berujar sama, “Kini, apalagi yang tersisa?”

Dan Ibu menjawabnya sendiri. “Yang tersisa hanya cerita masa kecil. Di gunung. Tak ada televisi. Tak ada telepon. Tak ada dompet gemuk. Tak ada gaun mengkilap. Tak ada sepatu hak tinggi. Tak ada pernikahan. Tak ada suami keparat. Tak ada.”

Ibu menangis lagi, sambil memandang kosong ke segala arah, sepanjang malam, sebelum akhirnya fajar turun dan ibu berkata, “Aku akan pergi ke gunung! Aku harus pergi ke gunung!”

Waktu bagai membatu, dan ibu terus saja memandang kosong, terus saja menggumam, sepanjang pagi dan siang. “Aku harus pergi ke gunung. Aku harus pergi ke gunung.”