Cerpen Mashdar Zainal (Tribun Jabar, 02 Juni 2019)

Ibu Pergi ke Gunung ilustrasi Tribun Jabarw.jpg
Ibu Pergi ke Gunung ilustrasi Tribun Jabar

IBU ingin pergi ke gunung. Ia sudah bosan menjadi manusia yang begitu-begitu saja. Setiap hari bertengkar dengan televisi. Berselisih paham dengan telepon genggam. Berseberang pendapat dengan dompet dan kartu-kartu. Berbeda pandangan dengan gaun-gaun. Dan bersitegang dengan sepatu-sepatu.

Ibu ingin pergi ke gunung. Titik. Sebab, kata Ibu, di gunung ada cerita yang indah. Seperti di masa silam. Waktu ia kecil. Dan di gunung ada kawah. Ibu pernah bilang, saat kecil ia ingin punya rumah di atas kawah. Ia ingin membuat bubur merah dan mendinginkannya dalam wadah. Menyantapnya seorang diri. Dalam gelegak yang sunyi. Sebuah kelebat mimpi dari jejak masa kecil.

Kini, isi kepala Ibu sudah habis dimakan kegaduhan. Barangkali Ibu ingin bertobat dan berkhalwat di gunung. Mencari ketenangan. Ibu sudah berjanji, apa pun yang terjadi ia memang harus pergi ke gunung, dan ia akan tetap pergi ke gunung. Bahkan jika tubuhnya harus menyusut dan ia kembali menjadi bayi. Ia akan tetap merangkak. Pergi ke gunung. Ia akan tetap mendaki. Menuju gunung. Tanpa butuh diantar. Apalagi ditemani.

Beberapa malam sebelum Ibu membebaskan diri dan benda-benda terkutuk itu, ia terlibat adu mulut dengan televisi di ruang tengah. Suara Ibu dan benda itu benar-benar membuat rumah gaduh. Ibu seorang perempuan, dan menurut Ayah, televisi juga perempuan, karena ia terlalu banyak bicara dan menuntut untuk selalu ditemani. Ayah bosan dengan kelakuan Ibu yang nyaris setiap hari berdebat dengan benda itu. Sebab itu, seperti hari-hari yang lewat, Ayah memilih pergi dari rumah dan pulang sesuai kehendaknya, bisa jadi dua hari kemudian, seminggu kemudian, atau bahkan sebulan kemudian. Ayah tak lagi menghiraukan Ibu karena Ibu telah menduakan Ayah dengan benda itu.

Malam itu, Ibu mengeluarkan kata-kata kotor sambil memukuli televisi dengan gagang sapu. Bertubi-tubi. Seperti memukuli maling yang tertangkap basah oleh tuan rumah. Begitu semangat Ibu memukuli benda itu sampai bingkai tabungnya retak dan antenanya peyot. Kata Ibu, televisi tua itu tak lagi setia kepadanya. Televisi itu meludahi Ibu dan mengolok-oloknya sebagai wanita tolol dan kurang waras. Televisi itu enggan menuruti kata-kata Ibu untuk menayangkan hal-hal yang indah dan menyenangkan, semisal turunnya harga bahan pangan, promosi lelang gaun artis untuk amal, atau diskon besar-besaran di pasar swalayan. Yang ditayangkan televisi akhir-akhir ini cuma pertengkaran, orang mengasah pisau, orang saling bacok, dan olok-olok kepada siapa saja, bahkan kepada Tuhan. Selepas televisi di ruang tengah remuk, Ibu menangis sambil menggenggam telepon pintarnya menuju kamar.

Advertisements