“Ketika aku terbangun, hujan baru reda. Di kejauhan ada bunyi guruh merambat. Barangkali suara Ayah masih menyeruku,” Panut berlinangan air mata mengenang.

“Anak-anakku. Tuhan Maha Besar. Pada hari baik, bulan baik begini, arwah Ayah kalian turut berkumpul sekarang di antara kita. Sesungguhnya kita masing-masing sudah bertemu. Dia telah datang menyerahkan Panut dan Mimi kembali kepada Ibu. Ayah mohon maaf pada Ibu. Dengan ikhlas, Ibu  sudah memberi maaf kepada Ayah kalian.” Ketiganya saling memandang.

“Kita sama memaafkan Ayah tentu,” ucap Panut dan Mimi merendah.

“Sebaiknyalah begitu anakku. Dengan begitu arwah Ayah kalian mendapat kelapangan dalam baqa. Dia telah berkabar meninggalkan kita akan kembali ke tempat yang asal.”

Sesaat perempuan itu menatap anak-anaknya. Panut dan Mimi tertunduk.

“Ingatlah kalian, suatu waktu ibu juga bakal menyusul kepergian itu. Kami sudah cukup merasa bahagia, bila kalian anak-anak kami dapat mendoakan kedua orang tuanya. Dengarlah takbir itu, gemanya berkumandang di mana-mana,” dan sang ibu itu pun pun tersedu-sedan. Bahunya terguncang-guncang. Bersama deras arus air mata perempuan itu ada yang mengkayuhkan perahu kecil ke hilir semakin jauh. Semakin jauh dan menghilang dalam kabut laut.

 

FOSAD, Fitri 2019.