“Kita segera menemuinya besok di rumah penjara, Mimi. Sebaiknya kita dapat berkumpul lagi,” sahut si ibu.

***

Puncak kebahagiaan segala jadi jumpa pada satu titik pertemuan. Ketika itu, di rumah tahanan, matahari pun melimpahkan cahayanya. Orang-orang berdatangan mengunjungi keluarganya. Orang-orang tertegun saling bermaafan. Rasa haru dan suka cita mengental menjadi satudi hati masing-masing.

Di hati perempuan janda itu, di hati Panut, di hati Mimi. Mungkin juga ada perasaan yang sama. Mengendap jauh di relung rongga roh lelaki itu, hadir di antara ketiga orang-orang yang dicintainya bagian hidupnya dulu berkeping-keping.

Ibu merangkul anak-anaknya. Mereka saling berpelukan menjalin kasih sayang yang sempat terkoyak-koyak.

“Aku berjanji sebebas dari penjara ini, akan kembali  ke pangkuan Ibu buat selamanya,” kata Panut bersimpuh di pangkuan ibunya. Dia rangkul Mimi menghambur tangis.

“Setelah kepergian ayah meninggalkan Ibu, membawaku dulu,” tutur Mimi terbata-bata. “Aku kemudian diserahkan ayah kepada orang lain. Seterusnya aku pun jadi milik banyak orang berganti-ganti,“ lanjut Mimi. Berbaur rasa sesal terus menggayuti hati.

“Sejak itu aku tak tahu lagi kabar ayah. Sampai ketika aku jatuh sakit, aku bermimpi kedatangan ayah. Ayah menyuruhku pulang kepada Ibu. Semula aku malu. Aku minta diantarkan pulang oleh  ayah. Aku malah disuruh pulang sendiri,“ ujar Mimi dibebani perasaan.

***

Janda itu memagut bahu Mimi yang runcing. Perempuan muda itu membenamkan wajahnya ke dada ibunya yang kisut.

“Bersukurlah anakku. Kau telah kembali ke pangkuan Ibu. Gusti, mudah-mudahan Engkau tunjuki juga hati anak lanangku. Panut, kembali padaku,” damba perempuan itu tersendat-sendat.

“Aku juga mimpi ketemu ayah,” ujar Panut.

“Aku mendatangi Ayah di rumah penjara. Jeruji terali yang menyekap Ayah, terdiri dari besi pijar marak menyala. Belenggu tangannya merah terbakar. Aku ingin mendekat. Ayah menyeruku agar cepat kembali saja kepada Ibu. Aku dilarang keras oleh Ayah, jangan menghampirinya lagi,” kata Panut lirih.