“Tabahkan hatimu, Aminah,” bisik lelaki itu mendesis seperti gigitan angin.

“Aku telah menerima hukuman dosa itu. Jangan biarkan doamu larut oleh air mata. Bertahanlah pada kesempatan masih ada,” dicobanya menggenggam jari kisut perempuan itu.

“Bagaimanapun aku hanya bisa menangisi diri sendiri,” keluh perempuan itu bergetar dalam kalbunya.

Dia pun menangislah sepuasnya seakan menguras habis tekanan perasaan dari dasar lubuk dukanya. Dia menangis sejadi-jadinya. Akhirnya tak ada air mata­nya lagi. Janda itu tercenung lama. Jemarinya perlahan menyisik ujung-ujung telekungnya. Lamat-lamat entah arah di mana terdengar orang membaca Alquran. Malam semakin jauh berangkat.

Perempuan itu menemukan dirinya sendiri terbaring di atas sajadahnya. Dirasanya ada sepasang tangan mendekapnya erat, bersamaan sehelai nafas hangat menyapa, menyerunya lembut.

“Ibu!”

Perempuan itu diam. Suara itu berulang lagi menyerunya.

“Ibu!”

Perempuan itu cuma menoleh. Teguran itu jadi menggugah, dibarengi dekapan sepasang tangan tadi mengguncang-guncang tubuh perempuan itu.

“Mimi, apakah kau hanya arwah, Mimi?” Perempuan dipanggil ibu itu tak yakin apa yang terjadi.

“Atau ini aku sekadar bermimpi?” Perempuan dipanggil ibu itu tak lekang dari keraguan seakan menggodanya.

***

Perempuan itu kaget menatap seraut wajah, mirip wajahnya sendiri. Jantungnya bertalu-talu keras, menghadapi kedatangan anak perempuannya tak terduga itu.

“Ya, aku ini Mimi, anak perempuan Ibu. Aku sekarang masih hidup, datang ke pangkuan Ibu. Aku sangat merindukan Ibu. Ciumlah aku. Ciumlah Mimi, Bu!” Keduanya saling berpelukan jadi satu melepas rindu yang terburai.

“Sekurus ini kau, Mimi, sepucat ini anakku.”

“Aku memang baru sakit, Bu, Saat penyakitku agak payah, aku bertemu ayah.”

“Di mana ayahmu Mimi?” pintas perempuan itu cepat.

Dia seakan merasakan kehadiran bekas suaminya berada di sisinya.

“Abang Panut, ada di mana dia, Bu? Aku juga sangat rindu pada Bang Panut,” ucap Mimi pula.