Tubuh janda itu demikian tipis, seakan menyatu dengan bayang-bayangnya tertimpa cahaya muram lampu dinding tergantung di paku dekat pintu. Di sana satu sosok berdiri diamuk bimbang. Lelaki itu terpaku. Lelaki itu merasa luluh oleh isak tangis perempuan itu tersedu-sedu. Dicobanya menyentuh bahu perempuan itu seraya berkata lembut, “Aku datang Aminah. Beri maaflah aku yang telah begitu menyengsarakanmu dulu. Aku sungguh berdosa menyia-nyiakanmu dan anak-anak kita. Aku berdosa meyakiti hatimu, menyakiti dirimu. Alangkah nistanya aku telah memperturutkan hawa nafsu.”

Lelaki itu tertegun. Sekarang, sambungnya, “Mumpung hari baik, bulan baik, aku sengaja memohon belas sisa doamu, bermurah hati memberi ampun kepadaku. Izinkanlah waktu sekejap ini aku bisa berkumpul bersama kalian.”

Dengan wajah basah kuyup, perempuan itu hanya mampu mengangkat wajahnya. Mendongakkan pandang ke langit-langit di ruang lengang. Temaram yang mewarnai pandang seperti cadar kelabu. Perempuan itu hanyut oleh arus tangis. Tersandung-sandung pada batu-batu kenangan.

***

Janda itu teringat berpisah dengan suaminya dulu. Segalanya jadi benar-benar berantakan tak menentu. Keputusan terpaksa diambilnya meski bertentangan dengan berat kata hati. Mereka mesi bercerai. Rumah tangga mereka jadi pecah. Dua orang anak mereka turut terpisah.

Seorang anak gadis mereka dibawa oleh ayahnya entah kemana. Nasib anak perempuan itu telah lama tidak diketahuinya dengan pasti. Walau pernah kemudian beberapa kali ada orang-orang membawa kiriman oleh-oleh dari si anak perempuan kepada ibunya.

Semua itu tambah membikin hati perempuan itu semakin parah. Karena, ada pula orang-orang membawa kabar dari jauh tentang anak perempuannya itu.  Ada yang mengatakan anak gadisnya telah menjual diri di kota. Sang janda pun jadi sangat cemas akan segalanya. Terasa benar nestapa hidup ini saling bertimpa. Seperti dia harus menerima suatu kutukan.

Seorang lagi anak lelaki yang tinggal bersamanya, membikin janda itu putus asa kehilangan tempat kepada siapa lagi ia harus berlindung. Dulu dia berpikir, “Biarlah si gadis dibawa akan mengurus ayahnya. Anak lanang ikut aku jadi pembela.”

Itu cuma tinggal harapan. Anak lelakinya seorang itu telah ketularan penyakit ayahnya dulu. Penjudi, pemabuk, dan terlibat banyak kejahatan.

Lengkap sudah derita perempuan itu sebagai janda. Seorang ibu yang gugupan menjalani hari-hari hidupnya yang pucat.